Tampilkan postingan dengan label true story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label true story. Tampilkan semua postingan

20 Desember 2017

Parody Lirik Asal Kau Bajagia ~Armada band


yang...
kemarin ku melihatmu
Kau pakai punya aku...
rasa sekarang kau dingin
seperti putri salju...
Apa kurang sexy ku
hingga kau begitu
Hingga kau pakai punyaku..
Katakanlah sekarang
kau hanya berpura-pura
itu punya ibuku
boleh ngutang seminggu..
janganlah kau berbohong
nanti kau di kutuk bencong
sebelum tutup usia..
kembali padaku...

18 Maret 2015

Bermodalkan Alasan Palsu, Seorang Perias Pengantin Pemula Disumpahi Banyak Orang

Menjadi sorang perias tidaklah gampang, harus bisa menjaga atittude dalam menjalin kerja sama. tak khayal jika hal terkecil pun bisa membuat pertemanan bahkan kerjasama itu sirna begitu saja. Seperti yang dialami kedua orang ini


ya nama orang ini Putri Andriansyah dan Andriansyah, kedua orang ini telah meminjam sejumlah property sanggul dari seorang makeup artist senior, akan tetapi kedua orang ini meremehkan tagihannya. dari sinilah mulai perdebatan kedua belah pihak, bermula dari alasan sakit keluar darah dari telinga tidak bisa bangun tapi ternyata kebohongan-kebohongan kedua orang tersebut terungkap. modus dibalik perbuatannya adalah menjatuhkan nilai jual sang makeup artist senior. untuk itu berhati-hatilah untuk semua perias-perias atau makeup artist dimanapun kalian berada, jika mereka berdua pinjam sesuatu harap dikasih jaminan berupa uang minimal 60% dari harga. 

12 Mei 2014

Tips Membuat Laporan Polisi Gratis Tanpa Bayar

oleh Lasty Bandidas

Bro n sist, kita sering banget menghilangkan sesuatu yang penting misal STNK, SIM, kartu ATM dan pasti ujung-ujungnya kita kudu ke kantor polisi terdekat untuk bikin surat kehilangan.. Karena kita hidup di Indonesia tercinta yang apa-apa pake duit. Tidak jarang kita di mintain pungutan uang "seikhlasnya" utk nebus tuh surat kehilangan biasanya mulai dr 10rb -20rb.. lumayan bisa buat beli nasi lele... nah, asty mau bagi bagi tips buat kalian biar duit mkn kalian g amblas ma polisi polis nakal..cekidot:

15 Desember 2009

Mantra Cinta: Cupid’s Love Juice

…..Having once this juice, I’ll watch Titania when she is asleep And drop the liquor of it in her eyes…


Secure upon-sat stones of promontory.

Sprak’d essence of the madly shooting stars

One drop or two of anything wat’ry.

Some semblance of a milk-white western flower

Fulfill a pot of purely mineral with ingredients which you’ve gathered carefully,

Upon said bowl, bestow harmonious breath

Till thou remember’st pure whose love you seek

Allow this precious time to meditate

Their quenched thirst your just deserved prize!

United they conspire to charm you mate.

With purple liquor destined for love’s eyes.

“Now with a deft and musical note, rejoice, to give your deepest love – desire strong voice.”


(by: William Shakespeare: A Midsummer Night’s Dream, Chapter 12 -13)

30 Oktober 2009

hati gelisah

Oleh. Dian T Indrawan

Jujur saat ini aku merasa gelisah tentang semua hal yang terjadi didalam hatiku bahkan didalam diriku. Mengapa diriku selalau saja dibayangi rasa cemburu?? Toh yang aku cemburui bukan siapa-siapa. Mengapa aku selalu merasa gelisah tentang semua yang terjadi dalam diriku. Apakah aku harus mabuk terlebih dahulu untuk dapat mengungkapkan semua yang ada dalam diriku?

Itu semua salah besar jikalau aku harus melakukan hal itu. Aku hanya ragu tentang semua yang terjadi dalam hidupku. Memang benar saat ini aku sedang merasa jatuh cinta dengan salah satu anggota kepolisian di daerahku, tapi aku tetap merasa gelisah karena persaan ini salah bagiku. Aku telah bersuami dan dia telah memiliki istri dan memiliki 3 anak pula.

oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan.....
apakah aku terus melakukan hal ini???
apakah aku tetap menjalaninya seperti alir mengalir???

aku tak ingin di judge sebagai perusak rumah tangga orang....
aku adalah aku Tuhan, dan dia adalah dia....

sampai saat ini aku masih saja gelisah...
gelisah akan hati dan rasa.

21 Oktober 2009

Kecewa

Oleh. Dian T Indrawan

Aku merasa kecewa dengan beberapa teman dikampus
Aku merasa tersinggung atas segala ucapan mereka
Aku begitu tak peduli apa yang mereka ucapkan.

DASAR KALIN SEMUA MANUSIA JAHANAM BAGI KEHIDUPANKU YANG BISANYA MENGUMPAT DAN MEREMEHKAN KARYA ORANG LAIN AKU TAK BUTUH KALIAN UNTUK MENJADI KLIEN KU TOH MASIH BANYAK YANG MENGHARGAI BAHKAN MAU MENJADI KLIENKU

Kalian harus ingat "JANGAN PERNAH MEREMEHKAN ORANG LAIN JIKA KALIAN TAK INGIN DIREMEHKAN."

07 Juli 2009

ABORSI

Oleh. Dian T Indrawan (Selasa, 7 Juli 2009)

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Sabtu saat berada di sebuah acara pembukaan pameran dari salah satu artis/perupa legendaris Jogja, temanku meminta kepadaku untuk dapat meluangkan waktu untuk curhat tentang masalah yang sedang ia alami.

"Dian, aku sebenarnya punya masalah besar antara Putra dan diriku sendiri" katanya padaku.
"Bukankah itu hal yang biasa jika masalah ada dalam satu hubungan, apalagi kalian masih pacaran?" jelasku.
"Ini berbeda masalahnya, Ian!" sahutnya.
"Lalu masalah seperti apa, die?"
"Kamu harus tahu Dian, aku telat menstruasi dan umur kandunganku sekitar satu bulan." Tegas Lodiena padaku.

Malam yang awalnya penuh dengan keceriaan itu, mendadak menjadi semakin kelabu, pasalnya hubungan yang mereka jalin baru sebatas pacaran.

"Lalu apa langkah kamu selanjutnya dalam menghadapi masalah itu?" tanyaku pada Lodiena.
"Aku mau aborsi janin yang ada dirahimku ini, Ian."
"Kamu yakin? kalau kamu memang sudah siap dan yakin lebih baik kamu hubungi salah satu LSM yang dapat membantu tentang tindakan itu." ucapku.

Memang masalah ini jika dibahas terdengan begitu miris, namun akhirnya aku tetap bercerita pada Naya seorang teman baik yang pernah mengalami hal yang sama. Lalu Naya pun menyarankan beberapa upaya yang disampaikannya langsung pada Putra dan Lodiena. Begitu susah diriku untuk mengungkapkan segalanya tentang kejadian ini, langkah-langkah berikutnya telah aku pasrahkan pada mereka yang akan melakukan perbuatan itu.

Tulisan ini merupakan kisah nyata dari salah satu teman baikku yang kini sedang dilema akan tindakan aborsi. Buat para pembaca di Indonesia dan di negara lain, pikirkan terlebih dahulu apa yang akan kalian perbuat, dan jangan lupa gunakan kondom.

03 Juli 2009

Meniti Impian

Oleh. Dian T Indrawan

Jum'at 26 Juni 2009

Hari yang begitu cerah, panas menyengat, dan suasana penuh kebosanan. Diriku menunggu waktu yang tak sesuai dengan janji hingga akhirnya molor satu jam. Dalam hati diriku berkata kepada mereka yang tak dapat menepati janji mereka: "Produksi hari pertama saja sudah molor, kapan ya tim ini bisa ontime???"

Sabtu 27 Juni 2009

Di hari kedua ini produksi, suasana di lokasi syutting tak lagi membosankan. Banyak sekali canda tawa dan keakraban antara pemain dengan semua kru. "Wow...!! Ini seperti tak sedang mengerjakan produksi film atau sejenisnya. Inilah suasana yang paling menyenangkan disini."

Minggu 28 Juni 2009

Tak terasa ternyata sudah tiga hari bekerja mengejar deadline, ternyata hari ini adalah hari terakhir untuk produksi video alat peraga matematika. Berkat semangat dan tekad bersama dan tim yang semakin solid, akhirnya syutting video ini berakhir dengan baik. tak hanya kru produksi saja yang senang tetapi para pemain dan orang tua mereka ikut menikmati kegembiraan itu.

Thank's All. See you Next Production......

22 Mei 2009

Teka-teki Down Live part 2

Down Live : Indra Kaswali[1]

Oleh: Dian T Indrawan

Indra adalah seorang homoseksual yang lahir dua puluh tiga tahun yang lalu di kota pelajar. Semasa balita, ia selalu mendapatkan dorongan secara materi oleh orang tuanya. Namun semenjak dia menginjak ke bangku sekolah dasar, Indra kecil selalu mendapatkan tekanan dari keluarga sehingga membuat mental dan psikologinya tertekan. Tak hanya dari keluarganya, ia juga selalu di cemooh oleh teman-teman sekolahnya yang selalu mengucilkan dirinya yang lemah. Indra bukan seorang yang lemah dari segi energi namun dia seorang yang memiliki lemah pada mentalnya yang dikarenakan banyak tekanan dari berbagai pihak.

“Indra banci, Indra banci, Indra banci…..” kata-kata itu selalu terdengar ketika ia bermain dengan teman-teman sebayanya. Hatinya sangat sensitif pada saat itu, terlebih banyak tekanan dari orang tuanya yang menganaktirikan.

“Lanang kok koyo wedhok! Dadi wong lanang ki ojo seneng nari (laki-laki kok seperti perempuan! Jadi laki-laki itu jangan suka menari)” itu semua terlontar dari kakaknya yang menganggap seni tari hanya milik perempuan. Akan tetapi cemoohan yang biasa terlontar dari mulut kakaknya itu tidak dapat mengubah suasana hati Indra yang semakin buruk. Waktu yang terus berjalan mengiri langkahnya dalam menghadapi cobaan yang terus menerpanya. Dia sebenarnya orang yang sangat ramah dan supel namun karena banyak tekanan dan diskriminasi dari berbagai pihak, Indra kecil ini semakin terpuruk mentalnya. Keceriaan baginya adalah dusta, dan cinta adalah air mata. Dalam kesendirian, ia selalu merenungi nasibnya. Akan tetapi dia sendiri selalu menangis dalam hati yang penuh luka. “Tuhan, apa yang sebenarnya kesalahanku? Bukankah aku adalah umat-Mu juga? Aku tak tahu apa yang salah dalam diriku ini. Aku bukan banci. Aku menari karena aku suka dengan seni yang membuatku lupa akan semua yang mencaciku, menghinaku dan mendiskriminasiku walaupun hanya terlupakan sejenak. Tuhan, mengapa Engkau mengujiku seperti ini?” Kata Indra yang saya kutip dari buku hariannya dan atas izinnya.

Ketika Indra menginjak kelas empat sekolah dasar, semakin banyak rintangan yang menerpa dirinya. Orang tuanya makin banyak permintaan dan keinginan yang tak mungkin dapat dilakukan sekaligus dan secara cepat. Dari tahun ke tahun dilaluinya dengan penuh kejenuhan akan tekanan-tekanan yang ia dapatkan dari berbagai pihak. Indra pun merasa iri terhadap kakak-kakaknya yang diperlakukan lebih baik dari pada dirinya. Pada akhirnya dia menemukan satu belahan jiwa dia ketika ia duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP). Sebut saja dia Sulis. “Bagiku Sulis itu bak pangeran berkuda putih yang datang menghampiriku ketika aku mendambakan seseorang yang dapat menerimaku apa adanya.” Jelas Indra kepadaku.

Aku sendiri sempat tersentak kaget mendengar hal itu. Dia pun melanjutkan cerita tentang kisah cintanya dengan Sulis yang menurutnya Indra dipertemukan oleh Tuhan ketika dirinya dan Sulis sedang liburan ke pulau dewata. Memang banyak orang bilang bahwa pulau dewata mengandung kesan tersendiri bagi yang merasa cinta pertama seperti ketika Indra merasakan hal itu di sana, yang terpenting dalam kehidupan Indra ketika itu adalah sesuatu yang dapat membelah kesadarannya dengan sebuah percikan api asmara yang menyinari jiwa yang sedang membara. “Dian, aku kok jadi bingung tentang kejadian itu, hingga kini aku masih mempertanyakan apakah semua itu catatan magis dari hati manusia?” Tanya Indra kepadaku tentang perasaannya pada waktu itu.

Yang kurasa saat ini adalah membayangkan tentang perasaan Indra pada waktu itu seolah seperti sang jiwa yang digerakkan di atas permukaan air dan menjadi teman hidup yang menggemakan kata-kata-Nya. Kuakui sikap yang Indra lakukan harus dapat diacungi jempol, karena jarang sekali seumur anak SMP berani menerima cinta seorang pria sebayanya sebagai seorang kekasih. Indra selalu saja memuji Sulis ketika dia teringat dengan kenangan manis bersama Sulis. Dalam pikirannya, Sulis adalah seseorang yang telah membawa sepucuk cinta dari mahkota raja yang melambangkan akan kesetiaan dan kebersamaan. Banyak yang bilang tentang kepribadian Indra yang susah di tebak, susah tuk dimengerti, dan banyak sekali kepura-puraan dalam diri Indra. Akan tetapi setelah kami bicara dan bertemu beberapa kali ini, pendapat tentang kepribadian Indra itu salah besar. Indra mudah sekali dimengerti. Dari kepura-puraannya selama ini adalah satu bentuk sikap untuk penjagaan dirinya yang selama ini selalu tertekan oleh berbagai pihak yang terjadi cukup lama.

Semua yang dialami Indra ketika itu dibiarkan berjalan seperti air yang mengalir. Dan dalam pikiran dia hanyalah pertanyaan-pertanyaan konyol yang dapat menjawab hanyalah dirinya sendiri. Beban yang telah membebaninya membuat kehidupannya semakin dipenuhi lika-liku yang tak pasti dimana ujungnya. Memang dari sekian banyak beban yang Indra pendam merupakan suatu ujian dari Tuhan walaupun kepura-puraannya sebagai tameng yang bukan untuk melindungi dirinya melainkan sebagai alat untuk menutupi jati diri bahkan kehidupan asmaranya. Ternyata hubungan spesial antara Sulis dan Indra dipenuhi kebahagiaan selayaknya pasangan heteroseksual. Dimana ada Indra pasti disana ada Sulis yang selalu disamping Indra. “Ada yang harus kamu ketahui, Dian. Ada satu kejadian yang sedikit menggelikan jika harus mengingatnya, karena setiap hari Sulis itu selalu menelponku sekitar satu hingga dua jam setiap harinya.” Ungkap Indra dengan penuh malu.

Ternyata kebahagiaan yang dialami oleh bersama kekasihnya tak berjalan mulus, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk berpisah walaupun mereka masih saling cinta. “Jujur ya, aku dengan Sulis sampai saat ini masih miliki rasa. Akan tetapi Tuhan berkata lain, dan aku harus berpisah. Sulis memang baik tapi semua dugaanku yang dulu adalah hampir 100% benar tapi ternyata dia telihat busuk juga.” Kata Indra dengan sedikit kesal dengan Sulis ketika menceritakan kembali tentang keputusan Indra untuk putus hubungan dengan Sulis. Perpisahan Indra dengan Sulis memang tragis, pasalnya Sulis yang dulu menjadi pangeran Indra harus beralih pada hati seseorang yang jelas-jelas telah menjadi perusak hubungan Indra dengan Sulis yang tak lain salah satu sahabat dari Indra sendiri.

“Dian, sebenarnya aku tidak rela kalau dia harus mencintai seorang perempuan, aku akan rela kalau dia dapat mencintai seorang pria lain.” Ungkapan Indra ketika curhat kepadaku. Menurutku tindakan Indra yang seperti itu aku anggap memang tindakan yang wajar karena dia tidak ingin hubungan itu terpecah belah karena seorang sahabatnya mencintai seseorang yang dikira heteroseksual tapi dalam kenyataannya dia adalah seorang homoseksual. Lebih parah lagi, Sulis hanya menganggap hubungannya dengan sahabat Indra hanya sebatas untuk formalitas semata. Aku sendiri sangat terharu mendengar cerita Indra, bahwa perempuan sebenarnya harus dihargai tapi kenapa masih banyak pria-pria diluar sana lebih suka mempermainkan hati seorang perempuan? Dari sudut pandang Indra, pada saat itu Sulis seperti tiang yang terlihat bak raksasa pada pergantian malam. Entah apa yang t’lah difikirkannya ketika menghadapi cobaan seperti itu. Sebulan berjalan, Indra yang biasanya terlihat gembira dan penuh dengan canda, semakin terlihat murung dan semakin rapuh. “Dian, andaikan aku mengenalmu lebih lama dan kamu tahu kejadian sesungguhnya, pasti kamu akan tahu apa makna cinta yang sesungguhnya. Aku hanya dapat berkata dalam hati, dimana engkau, dimanakah engkau?“ Jelas Indra kepadaku.

Ketika rahasia menyayat hati, ketika mata mulai merah, tulang-tulang rusuk hampir retak tersembunyi dalam dada, hingga manusia tak dapat menemukan kenyamanannya lagi kecuali dalam kata-kata dan keluhan yang selalu terucap di setiap malam yang dingin. Keadaan inilah yang dirasakan oleh Indra saat Sulis menyatakan perasaan palsunya pada sahabat perempuan Indra. “Memangnya ‘dia’ itu siapa sih?” tanyaku penasaran tentang sahabat perempuan Indra itu.

“Siska” Terang Indra.

Perasaan kecewa, sedih, dan cemburu bercampuk aduk menjadi satu. “Dian, awalnya aku tak dapat menerima keputusannya, namun akhirnya aku mulai menemukan pelipur lara dalam kata-kata panjang dalam hidupku. Dan aku merasa seperti orang kelaparan yang dikendalikan oleh rasa sakit dan memohon pertolongan kepada sahabatnya sendiri yang tak menghiraukan keadaan diriku sendiri.” Ungkap Indra. Yang membuatnya semakin rapuh jika Indra mulai terbebani oleh fikiran tentang arti hidup. Bagi Indra, arti hidup ini masih saja kelabu. Faktor ini datang karena adanya tekanan-tekanan dari luar diri Indra. Bagi orang tua Indra yang selalu menganggap bahwa Indra adalah seseorang anak yang tidak berguna bahkan tidak dapat bertanggung jawab. Apapun usaha Inadra selalu saja tak dianggap oleh orang tuanya. Pandangan orang tua Indra yang menurutku adalah suatu tindakan yang terlalu picik menyatatakan bahwa homoseksual bukanlah suatu kodrat akan tetapi homoseksual adalah suatu bentukan dari lingkungan sekitar.

Tapi dalam dirinya memiliki prinsip yang kuat, yaitu dengan adanya banyak tekanan dan diskriminasi dari berbagai pihak membuat Indra tak putus asa dan hanya diam saja dalam menjalani hidup. Indra sadar bahwa hidupnya ini tak berwarna putih bahkan tak berwarna hitap pekat, melainkan hidup menjadi homoseksual seperti Indra ini berada dalam kehidupan yang serba abu-abu. “Dian, kamu harus memahami bahwa cinta, dan kehidupan yang fana ini seperti filosofi coklat, yang pekat tapi nikmat. Jika aku telusuri kembali jejak yang telah aku tempuh. Aku melihat sekat-sekat yang menjeda dalam memoriku? Seperti membagi kisahku dalam butiran nikmat yang cepat terlumat. Bukankah tetap ada noda lekat yang selalu terlihat nikmat? Seperti duka yang selalu membuat kita tetap berharap ada. Coklat itu candu. Seperti khayalan, coklat menghadirkan memori semu tentang rasa, jiwa ataupun raga. Masih teringat kapan aku menikmati rasa, jiwa atau raga? Seperti letupan almond yang meritme dalam komposisi yang tak pernah pasti. Alur yang membuat kita merasa perkasa, pasrah dan lega. Coklat itu ejakulasi.

Layaknya tangis sendu. Sebuah rahasia yang tak pernah terjamah, terbungkus rapi dalam dosa sepi. Seperti bungkus coklat yang menutupnya rapat. Tak disisakan ruang angin untuknya, angin hanya bisa menyebarkan dusta, dan coklat meleleh karenanya. Waktu selalu melarutkan nestapa. Coklat itu rindu yang selalu dapat dinikmati. Mengapa juga coklat selalu berwarna coklat? Mengapa tidak ada kontradiksi, tak ada kontroversi seperti hidupku? Coklat memang murni, coklat putih? Itu bukan coklat.... Coklat tak pernah ada yang berwarna putih. Coklat itu nurani, dia berkata jujur tentang dirinya sendiri. Apa kamu suka coklat, Ian? atau kamu tipe orang naif yang menyingkirkanya dari nafsumu karena ketakutan? Dia dapat membuatmu menggelembung dalam bulatan lemak, atau ketakutan akan rapuh dari tiap biji dari gigimu? Sebegitu berbahayakah coklat bagimu? Jangan pungkiri, betapa kamu tak menginginkannya, tapi tetap saja dia merasa sempit di dalam benakmu. Awas coklat itu laten. Aku suka coklat, sepeti halnya lebih dari separuh manusia di dunia ini suka coklat. Coklat itu teduh, coklat itu nyaman, coklat itu tenang. 

Kadang coklat dapat menyembuhkan luka, kadang pula dia menjadi panah Amor, yang dapat menembus inti rasa dari manusia, coklat sangat kompleks. Coklat adalah perasaan, coklat itu diri kita.... Eksistensi yang kadang sulit untuk diterjemahkan, karena dia rasa. Seperti Adam dan Hawa, coklat tak pernah membuatnya terbuang dari surga. Coklat itu bijak, coklat itu perkasa, seperti penantian akan rasa. Coklat bukan hanya coklat, coklat adalah perasaan dalam kemasan....” jalasnya panjang lebar kepadaku hingga aku salut kepadanya yang begitu tegar menghadapi segala rintangan hidup.

Dalam keseharian Indra, lebih memberikan pelajaran berharga kepada semua manusia baik itu yang berorientasikan homoseksual (gay dan lesbian), biseksual, transgender/seksual, ataupun yang heteroseksual. Paling yang tidak dapat terlupakan oleh Indra, ketika dia mulai menjajaki dunia Internet. Tepatnya tanggal 14 Februari, ketika itu Indra bersama pengurus osis di sekolahnya mendapat tugas untuk dapat mengikuti seminar pelajar yang diadakan oleh salah satu lembaga yang menangani malah hak-hak reproduksi remaja ternama di kotanya. Dia sendiri sangat bersemangat dalam mengikuti seminar remaja yang mengangkat tema Penurunan Resiko Terjangkitnya HIV/AIDS di salah satu universitas yang biasa disebut dengan kampus biru. Indra sangat antusias mengikuti seminar tersebut karena dalam hatinya berkata, “miris sekali jika dirasa, anak-anak yang terlahir secara normal harus terkena dampak dari perbuatan orang tuanya, yatiu banyak anak-anak yang terlahir secara normal tetapi akhirnya harus terjangkit virus mematikan itu.”

Sepulang dari seminar Indra, dan salah satu teman sekelompoknya itu pun pulang bersama-sama. Yang paling sedikit lucu, Indra yang terkenal gaul ternyata dia tidak dapat mengakses internet. Akhirnya dia pun mulai mempelajari dari seorang teman yang pulang bersamanya. “Saat itu aku bilang sama temanku, sebut saja dia Vicky. Vic, ajari aku internet dong. Ya terutama chatting.... dan saat itu pulang wajah Vicky berubah entah mungkin dia merasa heran kepadaku... masa seorang Indra tidak bisa mengoprasikan internet? Tapi Vicky berbeda dengan teman-teman yang lain, dia berhati baik dan mau membantu orang yang sedang ingin belajar. Ya akhirnya Vicky yang mengajariku Internet dan chatting, Ian.“ Ungkap Indra kepadaku saat kita berdua nongkrong disebuah restaurant. Beberapa hari kemudian menurut keterangan dari Indra, dia mulai menjelajahi Internet baik dari chatting hingga browsing segala informasi tentang homoseksualitas dirinya. Dari chattinglah Indra yang dulu dapat terbilang buta akan informasi kehidupan homoseksual, sedikit demi sedikit dia mulai mengerti akan kehidupan yang sebenarnya. Banyak hal yang didapatkan olehnya dari bergaul di dunia maya itu. Baik pengetahuan akan homoseksualitas yang dimiliki oleh Indra hingga forum pertemanan online sehingga dia sendiri tak merasa sendiri.

Perjuangan Indra tak berakhir disini, walaupun ia adalah seorang homoseksual namun Indra sendiri masih merasa bingung ketika dirinya mengalami depresi ringan yang dikarenakan berbagai teror dan ancaman diterimanya ketika dia hendak menghindar dari komunitas LGBT. Ketika Ia menghadapi masalah yang pada saat itu menurutnya sangat berat, Indra pun berfikir dan mulai bertanya pada hatinya. “Mengapa mereka selalu meminta untuk penghapusan stigma buruk terhadap teman-teman sehati seperti diriku ini? Tapi dalam kenyataannya mereka pula yang membuat stigma itu. Meraka selalu berkata ’Kami bukan penyakit, kami tak sakit, kami tak terganggu jiwanya’ tapi mereka sendiri terlalu picik atas semua ucapannya itu. Lalu apa yang sekarang harus diperjuangkan oleh mereka????” 

Indra kini masih tetap berkeinginan untuk diam walau hati masih berontak. Walaupun kini ia masih merasa dirinya sakit akan homoseksualitasnya. “Dra, lalu apa rencanamu sekarang? Apakah kamu akan tetap diam? Akankah dirimu tetap ingin ikut-ikutan sakit tentang semua ini?” tanyaku pada Indra saat kami duduk berdua disalah satu angkringan di bilangan Patehan, Yogyakarta.

”Dian, andai saja mereka bilang kepadaku aku sebagai ego-distonic, akukan menjawab, Kalian sendiri tak merasa, apa yang telah kalian perbuat kepadaku hingga aku menjadi seperti ini? Dan seandainya mereka tetap saja cuek kepadaku, akukan berkata ’Dasar mereka itu hanya mulut besar tanpa ada perilaku yang mencerminkan perjuangan mereka.’ Selain itu aku tak hanya akan diam begitu saja, dra. Aku telah melaporkan kepada yang berwajib tentang masalah tindakkan ancaman dan pencemaran nama baik.”

(Versi lengkap ada di buku Downlive, halaman 71. Jangan lupa beli bukunya ya.....)

[1] Seorang homoseksual yang pernah merasa sakit akan kehomoseksualitasnya (ego-distonic,red)

27 Februari 2009

Tak Terlalu Penting

Pagi-pagi aku datang, 'tuk kenyamanan bekerja
Pagi-pagi aku datang, 'tuk semua yang ku anggap penting
Aku rela, ketika aku harus menelan pahitnya bekerja
Aku rela, ketika aku harus di bayar dengan tumpukan kertas

Tapi,
Tapi kini aku mulai berfikir.
Apakah aku harus bekerja tanpa menghasilkan uang sepeser pun?
Apakah aku harus bekerja dengan semua tumpukan-tumpukan kertas yang kosong?

Aku ingin bekerja untuk menyambung hidup
Memang aku bukanlah seorang SENIMAN seperti DIA
yang dapat mempertahankan hidup dengan BERHALA-BERHALAnya.

Kepedihanku terasa semakin perih,
ketika aku memohon izin kepadanya.

"Maaf, saya tidak dapat hadir pada tanggal 6-10 Maret 2009, karena saya harus hadir dalam launching buku dan pameran tunggalku."

Dengan lantang si PEMAHAT BERHALA itu menjawab.

"KAU TAK TERLALU PENTING DISINI"

Dalam hatiku aku hanya bertanya:

"Jika aku tak terlalu penting dengan ORGANISASIMU, buat apa aku harus berkorban demi ORGANISASIMU?

Jika aku tak terlalu penting DISANA, buat apa aku harus memiliki keinginan untuk mencalonkanmu di sebuah KOMPETISI NASIONAL?

Aku sangat kecewa dengan perilaku-perilakunya kepadaku.
Aku sangat menyesalkan atas sikap-sikapnya kepadaku yang selalu menusuk dari belakang.

Jika memang dia seorang pemimpin yang baik, pastinya dia tak'kan menusuk dari belakang.
Jika memang dia seorang yang pemberani, pastinya dia akan menghadapi lawannya dari depan.

Pantaskah DIA disebut seorang yang PENGECUT? Pantaskah DIA disebut sebagai pemimpin yang SOK BERANI?

Memang pantas, jika DIA disebut sebagai:

"PECUNDANG, PENGECUT, yang SOK BERANI memimpin"


Tulisan ini ditujukan untuk semua temen-temen baik itu di bidang seni ataupun bidang lainnya. yang mungkin akan menjadi seorang pemimpin. Janganlah kalian MENIRUnya, sebagai pemimpin yang SOK BERANI, PECUNDANG, PENGECUT.

salam

Dian T Indrawan

28 Januari 2009

Ingin Bahagia

By Dian T Indrawan


[*]Aku tak pernah tahu apa yang ada dihatimu, kau tak pernah tahu isi hatiku ini. Hati kecilku t’lah lama tersakiti olehmu. Namun kau selalu masih menganggapku seperti mentari yang tak dapat menghangatkan hatimu, seperti pelangi yang tak dapat memberi warna dalam kehidupan ini. Seperti bulan yang tak dapat menerangi malammu.


Kau hanya inginkan aku bahagia dengan caramu, kau inginkan aku meraih mimpi-mimpi kosong darimu. Tapi...... Semua itu salah! Aku ingin sekali meraih mimpi-mimpiku sendiri. Aku ingin bahagia dengan caraku sendiri. Sebagai anak, aku hanya dapat berharap dan selalu mengharap kau kan dapat berubah. Menerima aku apa adanya dengan segala kemampuan yang ku miliki.


Aku lelah, lelah mengejar mimpi-mimpi kosong darimu. Aku selalu menahan amarahku

‘tuk terus berlari mengejar harapan yang kau inginkan. Walau dalam hati kecilku ini, aku terus berontak untuk dapat bahagia. Aku telah muak, muak dengan semua yang aku lakukan demi kebahagiaan yang kau berikan. Karena bagiku kebahagian, keceriaan darimu adalah tangis, tawa dan senyuman dari mu adalah siksa batin. Aku tetap ingin merasakan kebahagian tanpa harus ada beban darimu[†].



[*] Puisi ini adalah isi hatiku yang selalu ingin kuutarakan pada seseorang yang telah melahirkanku, tapi biarlah isi hatiku ini kutulis dalam bentuk puisi-puisi agar teman-teman dapat membaca dan ikut merasakan betapa sakitnya jika diperlakukan tidak adil.

[†] Buat teman-teman yang ingin memberikan komentar atas tulisan-tulisanku selama ini langsung saja kirim email ke diantindrawan@gmail.com

22 Januari 2009

Malam Kelabu

By. Dian T Indrawan

[*]Rasa kantuk menghampiriku seolah tak ada keadaan yang lain. Ku pulang dengan sedikit rasa nyeri dikepala ‘ntah apa yang ku rasakan kini. Pukulan demi pukulan tanpa alasan yang jelas, ku terima dari orang-orang yang merasa mengerti diriku namun mereka masih sulit mengakui bahwa mereka termasuk orang-orang yang sok tahu akan sosok diriku sesungguhnya. Aku bukanlah seorang dewa yang turun di bumi, namun aku dilahirkan untuk menjalani hidup walaupun susah. Susah dari kekangan keluarga yang masih saja membatasiku untuk aku dapat berkreasi sesuai dengan kemampuanku tanpa ada celah bagiku untuk berbuat sesuatu.


Aku mencoba untuk teriak, teriak, teriak....

Tapi keadaan berkata lain, semakin aku berteriak keras, semakin ketat ikatan tali yang membatasiku. Hidupku seperti berada di neraka, hidupku seperti ada di penjara yang telah dilapisi oleh bara api yang sangat panas.


Aku semakin bimbang apa yang harus ku perbuat....

Menangis? Tertawa? Bernyanyi? Ataukah aku harus berdiam diri seolah tidak terjadi apa-apa? Mana mungkin aku bisa melakukan hal yang tidak dapat aku lakukan. Aku ingin bebas dari penjara yang dipenuhi bara api ini. Kemunafikan pada diri mereka juga t’lah memicikkan semua yang ada dalam mata mereka demi kebahagiaanku.


Aku bosan....

Aku bosan menerima kekangan yang terus menerus terjadi kepadaku.

Aku ingin sekali hidup dengan tenang, penuh kedamaian, kebebasan tanpa harus ada kekangan dari berbagai pihak. Semoga saja mereka tahu apa yang kurasa namun jangan sampai mereka hanya sok tahu apa yang aku rasa.


Aku yakin pasti mereka tak ingin tahu apa yang aku rasa kini. Aku yakin pada diriku apa yang mereka lakukan padaku hanya untuk kesenangan mereka sendiri. Aku ingin pergi dari kehidupan seperti ini..... aku ingin bebas dari kenistaan orang-orang yang selalu meremehkanku. Aku yakin pasti kelak masih ada yang dapat menghargai perjuanganku demi kebebasan berekpresi dalam diriku walaupun malam selalu kelabu bagiku.



[*] Tulisan ini kutujukan bagi orang-orang yang telah menyakiti hatiku, walaupun orang itu t’lah melahirkanku. Maafkan aku ibu jika ini yang bisa aku sampaikan, semoga ibu dan yang lain bisa mengerti isi hatiku. Yang terpenting aku bukan pelampiasan praktek sinetron sindrom………..

Malam Kelabu

By. Dian T Indrawan

[*]Rasa kantuk menghampiriku seolah tak ada keadaan yang lain. Ku pulang dengan sedikit rasa nyeri dikepala ‘ntah apa yang ku rasakan kini. Pukulan demi pukulan tanpa alasan yang jelas, ku terima dari orang-orang yang merasa mengerti diriku namun mereka masih sulit mengakui bahwa mereka termasuk orang-orang yang sok tahu akan sosok diriku sesungguhnya. Aku bukanlah seorang dewa yang turun di bumi, namun aku dilahirkan untuk menjalani hidup walaupun susah. Susah dari kekangan keluarga yang masih saja membatasiku untuk aku dapat berkreasi sesuai dengan kemampuanku tanpa ada celah bagiku untuk berbuat sesuatu.


Aku mencoba untuk teriak, teriak, teriak....

Tapi keadaan berkata lain, semakin aku berteriak keras, semakin ketat ikatan tali yang membatasiku. Hidupku seperti berada di neraka, hidupku seperti ada di penjara yang telah dilapisi oleh bara api yang sangat panas.


Aku semakin bimbang apa yang harus ku perbuat....

Menangis? Tertawa? Bernyanyi? Ataukah aku harus berdiam diri seolah tidak terjadi apa-apa? Mana mungkin aku bisa melakukan hal yang tidak dapat aku lakukan. Aku ingin bebas dari penjara yang dipenuhi bara api ini. Kemunafikan pada diri mereka juga t’lah memicikkan semua yang ada dalam mata mereka demi kebahagiaanku.


Aku bosan....

Aku bosan menerima kekangan yang terus menerus terjadi kepadaku.

Aku ingin sekali hidup dengan tenang, penuh kedamaian, kebebasan tanpa harus ada kekangan dari berbagai pihak. Semoga saja mereka tahu apa yang kurasa namun jangan sampai mereka hanya sok tahu apa yang aku rasa.


Aku yakin pasti mereka tak ingin tahu apa yang aku rasa kini. Aku yakin pada diriku apa yang mereka lakukan padaku hanya untuk kesenangan mereka sendiri. Aku ingin pergi dari kehidupan seperti ini..... aku ingin bebas dari kenistaan orang-orang yang selalu meremehkanku. Aku yakin pasti kelak masih ada yang dapat menghargai perjuanganku demi kebebasan berekpresi dalam diriku walaupun malam selalu kelabu bagiku.



[*] Tulisan ini kutujukan bagi orang-orang yang telah menyakiti hatiku, walaupun orang itu t’lah melahirkanku. Maafkan aku ibu jika ini yang bisa aku sampaikan, semoga ibu dan yang lain bisa mengerti isi hatiku. Yang terpenting aku bukan pelampiasan praktek sinetron sindrom………..

19 Januari 2009

SEMUA TENTANG DIRIKU

Oleh. Dian T Indrawan

Adakah orang bertanya, pernahkah dirinya mengetahui tentang diriku yang sebenarnya? Adakah orang bertanya, pernahkah aku meninggalkan kesan terbaik kepadanya? Jiwaku ini adalah diriku, diriku bukanlah sosok dari jiwaku. Jemariku telah bekerja dengan otakku tetapi bukanlah dengan jiwaku. Jiwaku adalah kumpulan perilaku, perilaku yang terdapat pada diriku yang terdiri dari susunan tulang, daging dan darah yang mungkin telah menyerap berbagai barang haram. Diriku bukanlah milikku seutuhnya.

Adakah orang yang pernah menerimaku apa adanya? Berjayalah kalimat-kalimat yang telah kutulis. Mereka adalah teman dan musuh yang terhormat dan ingin aku memasukkan diriku ke dalam tulisanku. Aku berharap dapat mendapat sapaan hormat yang sama dengan jiwaku. Tulisanku adalah salah satu ide yang diproduksi oleh otakku yang bersahaja dan tak dapat bercengkrama dengan perilaku. Sedangkan jiwaku telah memberitahukanku tentang semua pada dunia. Walau aku tak pernah berbuat yang sama kepada jiwaku...

Kekerasan jiwa adalah kekuatan hati, kekuatan jiwa bukanlah sebagai kekuatan hati. Hanya kesucianlah yang hanya dapat menjadi kekuatan hati seutuhnya. Kadang manusia terlalu picik, mereka masih menganggap bahwa kekuatan jiwa berdasarkan gejolak nafsu. Nafsu bukanlah sebagai kekuatan. Walau terkadang hidup akan terasa hampa tanpa adanya nafsu.

***

Di balik salju yang mulai turun, kulihat resah senyum Ralph. Aku tahu dirinya sedang mencari pelabuhan untuk egonya sendiri. Panas rindu mencari dinginnya jati diriku yang terabaikan di ranah asmara. Kau telah menggantikan kecemburuan senja dalam hidupku. Demikianlah ujung dari sebuah perjalanan panjangku dan merupakan akhir dari sebuah petualangan. Ku ’kan ke selatan, Ralph. ‘Tuk melihat musim panas dan memandangi merpati memadu cinta dan aku akan berenang di antara jiwa. Ralph, aku tahu kau ‘kan pergi ke utara ‘tuk menikmati kedinginan hati dan mencari kehangatan yang ku tak mengerti. Tetapi disanalah layaknya dirimu yang sesungguhnya.

Air mata mengiris halus jiwaku, ku usap t’lapak tangan ke wajah yang pucat dan terlihat ketakutan akan kehilangan nafas. Nafas yang mengalir dalam nafsu. Kubelai rambutmu dengan kelembutan malam serta getaran telah menyatu di ujung jari-jemari yang tak kuasa menahan gejolak kasih atas limpahan nuansa malam yang tak pernah bertepi. Tak’kan pernah kutinggalkan hatimu yang manangis pilu yang t’lah terpatri janji pada kedalaman nurani dan menyatu kegalauan dalam kasih meskipun kekuatan malam hendak meragas jiwaku.

Hari berganti hari, kulalui dengan kesendirian. Entah sampai kapan, sehingga akankah terjadi kebohongan di antara kita saat ini yang membuatku terluka dan seakan semuanya tak pernah terjadi. Ralph, dirimu yang t`lah berbohong, yang t`lah mendua dan dirimu pulalah yang t`lah hina diri. Semua ini terjadi begitu saja, namun aku tak inginkan kehadiranmu.

Pergi! Pergi!”

Kar’na…. Aku masih menyayangimu dan aku masih mencintaimu. Akan tetapi kau tak pernah mau tahu akan semua isi hatiku. Ralph, aku selalu memikirkanmu dan selalu menyangimu. Ralph, kapan semua akan berakhir? Kapan kau kan sadar apa yang pernah kau perbuat kepadaku?

T’lah ku berfikir lama, aku bukanlah sosok yang sempurna bagimu, Ralph. Dan aku t’lah mengecewakanmu. Ralph, kau adalah seseorang yang t’lah lama kukenal dan berubah tuk selamanya. Aku pun mencoba tuk melupakanmu serta menutup hati untukmu. Sekarang adalah saatnya aku berfikir bahwa aku benar-benar mencintainya, sungguh rasa ini takkan pernah tergantikan dan akan s’lalu kusimpan sebagai sebuah kenangan.

Ralph, kau telah memberiku tawa, membuatku tersenyum dan kau juga yang membuatku menangis. Aku ingin menutup pintu hati untukmu, Ralph! Selamanya....[*]

KENANGAN INDAH BERSAMANYA

Oleh. Dian T Indrawan

(cerita ini sudah terjadi 2 tahun yang lalu)

Pada sekuntum mawar yang mekar dan air sungai yang mengalir disituku melihat terukir wajahmu dan tertulis…. kisah cinta kita berdua. Sebuah nostalgia yang lalu yang tidak mudah untukku lupakan dan masih ku simpan erat-erat didalam sebuah potret wajah kita bersama. Aku tahu cinta sudah mulai pergi, tidak lagi kunjung datang bahkan telah lari jauh dariku terlalu jauh entah dimana. Aku tahu cinta sedang sakit tidak lagi bangkit terlalu uzur untuk memandangku tidak ingin bersama dan bosan kepadaku. Aku tahu cinta mulai benci terhadapku. Kerana aku….dan ramai manusia lain… sudah berhati batu!

Layaknya kemarau rindukan hujan, ladangku tak lagi gersang yang tertutup tanah basah. Menyemir tampak tak tandus, risau yang dulu sempat menandu jiwa rapuh ini. Detak jantung ini tak lagi berirama sendu atau pun berlantun lagu kealpaan hati. Sajakku t’lah terbungkus, menyemai bersama perantauan jiwaku. Aku terdiam kian dalam. Aku melangkah dalam keanugrahan…. Mimpi, ini seperti mimpi. Aku tak ingin terjaga oleh mimpi nyata yang indah dan begitu sempurna. Aku ingin terus merasakan semua ini…

Senyummu adalah bahagiaku, ceriamu adalah dambaku, gelisahmu adalah kebimbanganku. Air matamu adalah kesedihanku, kau adalah pelipur lara dalam duka hatiku. Kau pengiring suka citaku. Ikatan ini berawal dari hati atas nama cinta. Jalinan ini bermula dari rasa atas nama sayang. Pertautan ini berasal dari angan atas nama rindu. Sungguh ini adalah cinta, sayang, dan rindu. Cinta, sayang, dan rindu atas nama pengabdianku kepadamu, Ralph. Malam ini bintang bersinar cinta, bulan tersenyum sayang, angin mendesir rindu. Wahai bintang, bulan dan angin, sampaikanlah salam cinta, sayang, dan rinduku kepadanya bahwa Sungguh aku sangat mencintaimu, Ralph.”[*]

Cinta yang Tersakiti

Oleh. Dian T Indrawan

Andai saja ada malam ‘tuk melihat hatiku yang bimbang dan penuh tanda tanya. Tentang perasaan yang penuh sayang ‘kan dirimu. Hingga kau bosan, jangan jadikan aku bintang, bintang yang tak bertuan. Namun jadikanlah aku bintang yang penuh dengan kilau yang mampu menerangimu hingga ujung waktu. Sampai kau tahu, aku mampu menjadikanmu bintang hidupku.

‘Tuk burung yang menyayangi langit, ‘tuk angin yang membelai lembut tubuhku. Kukatakan s’lalu ada cinta untukmu. Warna lembayung penyejuk hati dalam keheningan malam yang sunyi kutapaki jalan yang tak pasti, ‘tuk mengutarakan semua isi hati p’rasaan yang ingin mengubah hari, aku sederhana tak banyak tuntutan atau pun banyak pilihan. Namun selalu ada cinta untukmu.

Kau perlu tahu, Ralph. Cinta itu indah bila diwujudkan perih bila dikhianati, pahit bila dikenang. Mungkin suci ‘tuk mendapatkan cinta, kau lebih pantas mendapatkan cinta suci. Cinta sejati yang abadi s’lamanya. . . Mungkin terlalu sempit untuk menerima dalam lubuk hatiku.

Kubayangkan butir air mata memenuhi pelupuk matamu saat kau membacakan baris-baris kasih sayang. Ku sapa, beberapa butir air mata menggantung disukmaku menyeruak ke dunia menemani keharuanmu tak ada yang dapat terucap hari ini. Seperti hari kemarin, aku hanya membisu kutulis beberapa kata kehormatan kepadamu melalui sebuah surat elektronik. Namun kini hanya dapat duduk menyaksikan ilham illahi. Akankah aku dapat melihat kekasihku, sebahagia lantunan nyanyian hatimu, yang hendak menempuh tahap tertinggi kodrat manusia?

Kugoreskan bayangan air matamu yang terdorong keluar oleh kebahagiaan. Aku hanya berusaha menutupi jalan air mataku yang tak sanggup menahan keharuan menuntut jalan keluar, mungkinkah aku berteman dengan air matamu?

***

Ralph, Jangan kau mengucapkan! Jika kau telah mengkhianatiku. Sungguh aku baru memulainya, dikejauhan aku tersiksa karena suka duka yang kulewati sendirian. Tak ‘kan bisa tergantikan tak seindah selain bersamamu. Aku rindu ‘tuk menyelimutimu dikala malam kelam, rindu kemarahan dan air mata s’lalu menuduhku pencipta masalah. Aku mengerti kepergianmu bukan untuk menjauh dariku. Bukan kar’na kau membenciku. Sungguh yang kau lakukan demi kebahagiaan kita berdua. Meski dipengaruhi oleh sebuah eksistensi. S’mua harus ikhlas dan sabar niat tulus dan suci tanpa tendensi.

Andai saja kau dapat hadapi satu permasalahan yang seperti ritme dari perjuangan cinta. Jangan tak ada sapa atau pun tak ada senyum. Jangan pernah melarikan diri dari masalah. Meski diriku dipenuhi kontroversi dari keluarga yang luar biasa. Ralph, semua perasaan yang ada t’lah membebaniku. Jarak telah memisahkan aku denganmu. Bagaimana kau tahu tentang diriku disini begitu mengingatmu? Kita tak pernah berucap. Bagaimana kau tahu jika hatiku tak mampu berpaling? Diriku selalu merasa ragu atas cintamu kepadaku. Saat kau’kan pergi jauh. Demi kerinduan sebuah pengabdian, aku masih mengingatmu... Aku tak ‘kan melupakanmu. Ralph yakinlah aku akan menunggumu.

***

Dalam dekapan rasa berapa kali aku duduk di sini. Dalam kerinduan. Berapa kali lagi aku akan di sini. Dengan segala asa. Masih duduk di dermaga tua ini. Entah, sampai kapan? Mungkin sampai tak lagi ada kerinduan untuk mu. Menit…., detik...., semuanya berlalu dengan cepat dan tanpa terasa. Dan perubahan pun s’lalu ada. Walau dunia semakin kacau dan kedamaian bumi s’makin punah. Cinta sejati t’lah menjauh tinggalkan sisa-sisa yang tak berarti. Mungkinkah aku dapat bertahan hingga akhir jaman? Karena bumi makin lelah untuk menanggung beban manusia yang semakin berat. Adakah tempat yang tersisa untuk hatiku pada dirinya?

Untuk apa aku berdiri, bila tak ada satu pun cinta yang dapat menemani langkahku yang sepi. Percuma aku hidup bila aku tak bisa bersanding dengannya dan jika aku tak bisa memilikinya. Kenapa cinta tak pernah bisa membalas semua? Kenapa rindu tak pernah dapat terobati? Bila cinta..... hanya dapat disakiti, maka hancur hatiku jika tanya..... tak pernah terjawab. Aku tak tahu apa isi hatimu...

Ralph, satu malam yang indah ditemani gemerlapnya bintang dan rembulan yang bersinar indah. Mengingatkan akan dirimu yang selalu menemaniku. Namun saat bulan dan bintang bersinar indah, dirimu tak ada disampingku. Aku merasa seakan kau jauh, malam-malam tak bersama aku merasa sepi dalam hidup. Bagaikan bintang tak ditemani bulan dan bagaikan bulan tak ditemani bintang.[*]

DONGENG UNTUK SANG KEKASIH

Oleh. Dian T Indrawan

Bangun, bangun! Aku memanggilmu di balik seribu rasa ketakuatanku. Aku membentangkan sayap-sayapmu kearah dirimu, kekasihku. Bangunlah kekasihku! Karena gerakan yang terjadi t’lah menghentikan dan kesunyian yang telah mengkuatkan semua gemuruh dentang kuku. Langkah kaki diluar sana mulai berhenti dan tidur selalu memeluk jiwa manusia. Aku terbangun sendiri, kar’na kerinduan menarikku menuju keselamatan kapan saja, dan tidur akan selalu menyeretku. Kekasihku! Cinta t’lah menyeretku dekat denganmu sedangkan ketakutanku mulai memudar sejak bersamamu disini. Aku disini meninggalkan tempat tidurku, aku takut akan mimpi-mimpi yang disembunyikan di dalam selimut yang terlipat rapi. Kulemparkan buku ke atas meja, karena helaan nafsu telah membakar semua garis-garis halamannya dan meninggalkan ruang kosong putih dihadapanku. Bangun! Dengarkanlah aku…..!

Cintaku, aku mendengar seruanmu dari balik rasa ketakutan dan merasakan sayap-sayapku hingga terasa kaku. Aku akan bangun dan segera pergi ke halaman luas di luar sana. Kakiku dan busanaku kini basah oleh embun malam yang ganas. Aku berdiri disini dan mendengarkan seruan dari jiwamu, cintaku.

Bicaralah kepadaku kekasihku, dan biarkanlah nafasmu terbang bersama angin yang bertiup berbalik arah dari lembah-lembah perbukitan menoreh. Hanya saja aku akan mendengar, karena kegelapan t’lah mengantarkan semua orang untuk kembali beristirahat. Semua orang telah beranjak untuk tidur namun aku ‘kan tetap mendengarkanmu. Cintaku, langit t’lah mencoba membuat sebuah kerudung malam dari sinar bulan yang cantik dan melemparkannya menutupi tubuh Indonesia.

***

Sayangku, di malam yang gelap ini, langit bagaikan permadani yang tebal, menjebak semua polusi dari pabrik dan nafas kematian serta ia juga berhasil menyembunyikan tulang rusuk kota. Warga kota mulai terlentang dalam gubuk-gubuknya yang dibangun dari tumpukan batu bata yang disusun oleh suami-suami mereka. Cintaku, tahukah engkau mereka sekarang sedang berlomba-lomba menuju panggung mimpi-mimpi indah mereka.

Dosa-dosa yang berat kini telah membukukkan punggung mereka. Kuda-kuda mereka sudah letih untuk berjalan menapaki lorong-lorong cinta yang berbatu. Sayangku tahukah engkau, mereka mulai menutup mata untuk malam ini. Aku sangat takut akan hantu-hantu malam yang penuh dengan keputusasaan.

Cintaku, aku mulai merasakan beratnya bulu mata. Dapatkah kita berdua untuk melemparkan diri diatas tempat tidur cinta kita? Cabang-cabang pohon bergoyang di terjang angin malam yang kejam. Mimpi-mimpi buruk mulai beraksi, mengganggu manusia yang penuh dengan ketidakpastian. Aku menangis dalam tidurku, sayangku, aku merasa takut tidur disini. Tenanglah, cintaku, aku berada disampingmu. Aku tak’kan pernah meninggalkanmu sedirian menggapai mimpi dan cita-cita. Sayangku, dengarlah! Tetangga kita gemetar, tak tahan menahan lapar. Helaannya terengah-engah, dahi mereka berkerut bersama sebuah keputusan dan tuntutan hidup.

Wanginya bunga sedap malam telah mengisi udara. Angin malam yang dingin telah membawa mereka diatas puncak bukit yang mengisi setiap jiwa manusia dengan kerinduan dan selalu membuat mereka semakin rindu untuk bergerak lembut di awan.

***

Pagi hari telah tiba, mata yang tertidur mulai terbuka. Cahaya pagi memberkas dari balik tirai kamarku yang telah menyembunyikan tenaga kehidupan. Segarnya pagi telah membangunkan para penghuni kota yang telah bersandar dari keheningan dan kesunyian malam. Suara-suara pagi mulai menyerukan untuk mulai ibadah pagi dan ayam-ayam jantan mulai bersua seolah-olah semua isi alam berdoa. Sekawanan burung gereja mulai bernyanyi. Aku berjalan keluar untuk mengendorkan otot-otot yang kaku.

Kekasihku, pagi hari telah tiba. Menyebarkan pesona dengan sinar matahari yang hangat. Tirai-tirai ditarik dari jendela-jendela dan pintu-pintu dibuka untuk membuka raut-raut wajah yang kelabu dengan mata mereka yang penuh dengan kekhawatiran yang selalu bersanding dengan kehidupanku. Kekasihku, mengapa keputusasaan dan ketakutan selalu membayangi hidupku? Bayangan ini seakan-akan menggelapkan semua asa.

Cintaku, tenanglah. Jalan masih panjang, janganlah engkau takut menghadapi pertempuran ini. Semangatlah cintaku, jalan-jalan di luar sana mulai dipadati manusia dengan jalannya yang tergopoh-gopoh dan polusi pun mulai menebal serta gerimis yang jatuh dari langit dapat menjadi temanmu disini. Kota ini adalah arena yang tepat untukmu, karena kau dapat menempuhnya dengan belajar yang kuat demi mencapai cita-citamu.

***

Terima kasih, kekasihku. Hidup ini terasa indah jika aku selalu disisimu. Cintaku, aku memiliki perasaan yang sama, hidup ini seperti berada di surga yang di isi dengan kehidupan dan kehalusan. Namun tidak bagi mereka yang berada di luar sana. Kekasihku, hidup disini bagai neraka yang dipenuhi dengan keburukan dan ketakutan.[*]

 
SPOT ABU-ABU - Free Blogger Templates, Free Wordpress Themes - by Templates para novo blogger HD TV Watch Shows Online. Unblock through myspace proxy unblock, Songs by Christian Guitar Chords