20 Desember 2017
Parody Lirik Asal Kau Bajagia ~Armada band
yang...
kemarin ku melihatmu
Kau pakai punya aku...
rasa sekarang kau dingin
seperti putri salju...
Apa kurang sexy ku
hingga kau begitu
Hingga kau pakai punyaku..
Katakanlah sekarang
kau hanya berpura-pura
itu punya ibuku
boleh ngutang seminggu..
janganlah kau berbohong
nanti kau di kutuk bencong
sebelum tutup usia..
kembali padaku...
18 Maret 2015
Bermodalkan Alasan Palsu, Seorang Perias Pengantin Pemula Disumpahi Banyak Orang
05 Juni 2014
12 Mei 2014
Tips Membuat Laporan Polisi Gratis Tanpa Bayar
Bro n sist, kita sering banget menghilangkan sesuatu yang penting misal STNK, SIM, kartu ATM dan pasti ujung-ujungnya kita kudu ke kantor polisi terdekat untuk bikin surat kehilangan.. Karena kita hidup di Indonesia tercinta yang apa-apa pake duit. Tidak jarang kita di mintain pungutan uang "seikhlasnya" utk nebus tuh surat kehilangan biasanya mulai dr 10rb -20rb.. lumayan bisa buat beli nasi lele... nah, asty mau bagi bagi tips buat kalian biar duit mkn kalian g amblas ma polisi polis nakal..cekidot:
24 April 2014
19 April 2014
15 Desember 2009
Mantra Cinta: Cupid’s Love Juice
…..Having once this juice, I’ll watch Titania when she is asleep And drop the liquor of it in her eyes…
Secure upon-sat stones of promontory.
Sprak’d essence of the madly shooting stars
One drop or two of anything wat’ry.
Some semblance of a milk-white western flower
Fulfill a pot of purely mineral with ingredients which you’ve gathered carefully,
Upon said bowl, bestow harmonious breath
Till thou remember’st pure whose love you seek
Allow this precious time to meditate
Their quenched thirst your just deserved prize!
United they conspire to charm you mate.
With purple liquor destined for love’s eyes.
“Now with a deft and musical note, rejoice, to give your deepest love – desire strong voice.”
(by: William Shakespeare: A Midsummer Night’s Dream, Chapter 12 -13)
30 Oktober 2009
hati gelisah
Jujur saat ini aku merasa gelisah tentang semua hal yang terjadi didalam hatiku bahkan didalam diriku. Mengapa diriku selalau saja dibayangi rasa cemburu?? Toh yang aku cemburui bukan siapa-siapa. Mengapa aku selalu merasa gelisah tentang semua yang terjadi dalam diriku. Apakah aku harus mabuk terlebih dahulu untuk dapat mengungkapkan semua yang ada dalam diriku?
Itu semua salah besar jikalau aku harus melakukan hal itu. Aku hanya ragu tentang semua yang terjadi dalam hidupku. Memang benar saat ini aku sedang merasa jatuh cinta dengan salah satu anggota kepolisian di daerahku, tapi aku tetap merasa gelisah karena persaan ini salah bagiku. Aku telah bersuami dan dia telah memiliki istri dan memiliki 3 anak pula.
oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan.....
apakah aku terus melakukan hal ini???
apakah aku tetap menjalaninya seperti alir mengalir???
aku tak ingin di judge sebagai perusak rumah tangga orang....
aku adalah aku Tuhan, dan dia adalah dia....
sampai saat ini aku masih saja gelisah...
gelisah akan hati dan rasa.
21 Oktober 2009
Kecewa
Aku merasa kecewa dengan beberapa teman dikampus
Aku merasa tersinggung atas segala ucapan mereka
Aku begitu tak peduli apa yang mereka ucapkan.
DASAR KALIN SEMUA MANUSIA JAHANAM BAGI KEHIDUPANKU YANG BISANYA MENGUMPAT DAN MEREMEHKAN KARYA ORANG LAIN AKU TAK BUTUH KALIAN UNTUK MENJADI KLIEN KU TOH MASIH BANYAK YANG MENGHARGAI BAHKAN MAU MENJADI KLIENKU
Kalian harus ingat "JANGAN PERNAH MEREMEHKAN ORANG LAIN JIKA KALIAN TAK INGIN DIREMEHKAN."
07 Juli 2009
ABORSI
Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Sabtu saat berada di sebuah acara pembukaan pameran dari salah satu artis/perupa legendaris Jogja, temanku meminta kepadaku untuk dapat meluangkan waktu untuk curhat tentang masalah yang sedang ia alami.
"Dian, aku sebenarnya punya masalah besar antara Putra dan diriku sendiri" katanya padaku.
"Bukankah itu hal yang biasa jika masalah ada dalam satu hubungan, apalagi kalian masih pacaran?" jelasku.
"Ini berbeda masalahnya, Ian!" sahutnya.
"Lalu masalah seperti apa, die?"
"Kamu harus tahu Dian, aku telat menstruasi dan umur kandunganku sekitar satu bulan." Tegas Lodiena padaku.
Malam yang awalnya penuh dengan keceriaan itu, mendadak menjadi semakin kelabu, pasalnya hubungan yang mereka jalin baru sebatas pacaran.
"Lalu apa langkah kamu selanjutnya dalam menghadapi masalah itu?" tanyaku pada Lodiena.
"Aku mau aborsi janin yang ada dirahimku ini, Ian."
"Kamu yakin? kalau kamu memang sudah siap dan yakin lebih baik kamu hubungi salah satu LSM yang dapat membantu tentang tindakan itu." ucapku.
Memang masalah ini jika dibahas terdengan begitu miris, namun akhirnya aku tetap bercerita pada Naya seorang teman baik yang pernah mengalami hal yang sama. Lalu Naya pun menyarankan beberapa upaya yang disampaikannya langsung pada Putra dan Lodiena. Begitu susah diriku untuk mengungkapkan segalanya tentang kejadian ini, langkah-langkah berikutnya telah aku pasrahkan pada mereka yang akan melakukan perbuatan itu.
Tulisan ini merupakan kisah nyata dari salah satu teman baikku yang kini sedang dilema akan tindakan aborsi. Buat para pembaca di Indonesia dan di negara lain, pikirkan terlebih dahulu apa yang akan kalian perbuat, dan jangan lupa gunakan kondom.
03 Juli 2009
Meniti Impian
Jum'at 26 Juni 2009

Hari yang begitu cerah, panas menyengat, dan suasana penuh kebosanan. Diriku menunggu waktu yang tak sesuai dengan janji hingga akhirnya molor satu jam. Dalam hati diriku berkata kepada mereka yang tak dapat menepati janji mereka: "Produksi hari pertama saja sudah molor, kapan ya tim ini bisa ontime???"
Sabtu 27 Juni 2009

Di hari kedua ini produksi, suasana di lokasi syutting tak lagi membosankan. Banyak sekali canda tawa dan keakraban antara pemain dengan semua kru. "Wow...!! Ini seperti tak sedang mengerjakan produksi film atau sejenisnya. Inilah suasana yang paling menyenangkan disini."
Minggu 28 Juni 2009
Tak terasa ternyata sudah tiga hari bekerja mengejar deadline, ternyata hari
ini adalah hari terakhir untuk produksi video alat peraga matematika. Berkat semangat dan tekad bersama dan tim yang semakin solid, akhirnya syutting video ini berakhir dengan baik. tak hanya kru produksi saja yang senang tetapi para pemain dan orang tua mereka ikut menikmati kegembiraan itu.Thank's All. See you Next Production......
22 Mei 2009
Teka-teki Down Live part 2
[1] Seorang homoseksual yang pernah merasa sakit akan kehomoseksualitasnya (ego-distonic,red)
27 Februari 2009
Tak Terlalu Penting
Pagi-pagi aku datang, 'tuk semua yang ku anggap penting
Aku rela, ketika aku harus menelan pahitnya bekerja
Aku rela, ketika aku harus di bayar dengan tumpukan kertas
Tapi,
Tapi kini aku mulai berfikir.
Apakah aku harus bekerja tanpa menghasilkan uang sepeser pun?
Apakah aku harus bekerja dengan semua tumpukan-tumpukan kertas yang kosong?
Aku ingin bekerja untuk menyambung hidup
Memang aku bukanlah seorang SENIMAN seperti DIA
yang dapat mempertahankan hidup dengan BERHALA-BERHALAnya.
Kepedihanku terasa semakin perih,
ketika aku memohon izin kepadanya.
"Maaf, saya tidak dapat hadir pada tanggal 6-10 Maret 2009, karena saya harus hadir dalam launching buku dan pameran tunggalku."
Dengan lantang si PEMAHAT BERHALA itu menjawab.
"KAU TAK TERLALU PENTING DISINI"
Dalam hatiku aku hanya bertanya:
"Jika aku tak terlalu penting dengan ORGANISASIMU, buat apa aku harus berkorban demi ORGANISASIMU?
Jika aku tak terlalu penting DISANA, buat apa aku harus memiliki keinginan untuk mencalonkanmu di sebuah KOMPETISI NASIONAL?
Aku sangat kecewa dengan perilaku-perilakunya kepadaku.
Aku sangat menyesalkan atas sikap-sikapnya kepadaku yang selalu menusuk dari belakang.
Jika memang dia seorang pemimpin yang baik, pastinya dia tak'kan menusuk dari belakang.
Jika memang dia seorang yang pemberani, pastinya dia akan menghadapi lawannya dari depan.
Pantaskah DIA disebut seorang yang PENGECUT? Pantaskah DIA disebut sebagai pemimpin yang SOK BERANI?
Memang pantas, jika DIA disebut sebagai:
"PECUNDANG, PENGECUT, yang SOK BERANI memimpin"
Tulisan ini ditujukan untuk semua temen-temen baik itu di bidang seni ataupun bidang lainnya. yang mungkin akan menjadi seorang pemimpin. Janganlah kalian MENIRUnya, sebagai pemimpin yang SOK BERANI, PECUNDANG, PENGECUT.
salam
Dian T Indrawan
28 Januari 2009
Ingin Bahagia
By Dian T Indrawan
[*]Aku tak pernah tahu apa yang ada dihatimu, kau tak pernah tahu isi hatiku ini. Hati kecilku t’lah lama tersakiti olehmu. Namun kau selalu masih menganggapku seperti mentari yang tak dapat menghangatkan hatimu, seperti pelangi yang tak dapat memberi warna dalam kehidupan ini. Seperti bulan yang tak dapat menerangi malammu.
Kau hanya inginkan aku bahagia dengan caramu, kau inginkan aku meraih mimpi-mimpi kosong darimu. Tapi...... Semua itu salah! Aku ingin sekali meraih mimpi-mimpiku sendiri. Aku ingin bahagia dengan caraku sendiri. Sebagai anak, aku hanya dapat berharap dan selalu mengharap kau kan dapat berubah. Menerima aku apa adanya dengan segala kemampuan yang ku miliki.
Aku lelah, lelah mengejar mimpi-mimpi kosong darimu. Aku selalu menahan amarahku
‘tuk terus berlari mengejar harapan yang kau inginkan. Walau dalam hati kecilku ini, aku terus berontak untuk dapat bahagia. Aku telah muak, muak dengan semua yang aku lakukan demi kebahagiaan yang kau berikan. Karena bagiku kebahagian, keceriaan darimu adalah tangis, tawa dan senyuman dari mu adalah siksa batin. Aku tetap ingin merasakan kebahagian tanpa harus ada beban darimu[†].
[*] Puisi ini adalah isi hatiku yang selalu ingin kuutarakan pada seseorang yang telah melahirkanku, tapi biarlah isi hatiku ini kutulis dalam bentuk puisi-puisi agar teman-teman dapat membaca dan ikut merasakan betapa sakitnya jika diperlakukan tidak adil.
[†] Buat teman-teman yang ingin memberikan komentar atas tulisan-tulisanku selama ini langsung saja kirim email ke diantindrawan@gmail.com
22 Januari 2009
Malam Kelabu
By. Dian T Indrawan
[*]Rasa kantuk menghampiriku seolah tak ada keadaan yang lain. Ku pulang dengan sedikit rasa nyeri dikepala ‘ntah apa yang ku rasakan kini. Pukulan demi pukulan tanpa alasan yang jelas, ku terima dari orang-orang yang merasa mengerti diriku namun mereka masih sulit mengakui bahwa mereka termasuk orang-orang yang sok tahu akan sosok diriku sesungguhnya. Aku bukanlah seorang dewa yang turun di bumi, namun aku dilahirkan untuk menjalani hidup walaupun susah. Susah dari kekangan keluarga yang masih saja membatasiku untuk aku dapat berkreasi sesuai dengan kemampuanku tanpa ada celah bagiku untuk berbuat sesuatu.
Aku mencoba untuk teriak, teriak, teriak....
Tapi keadaan berkata lain, semakin aku berteriak keras, semakin ketat ikatan tali yang membatasiku. Hidupku seperti berada di neraka, hidupku seperti ada di penjara yang telah dilapisi oleh bara api yang sangat panas.
Aku semakin bimbang apa yang harus ku perbuat....
Menangis? Tertawa? Bernyanyi? Ataukah aku harus berdiam diri seolah tidak terjadi apa-apa? Mana mungkin aku bisa melakukan hal yang tidak dapat aku lakukan. Aku ingin bebas dari penjara yang dipenuhi bara api ini. Kemunafikan pada diri mereka juga t’lah memicikkan semua yang ada dalam mata mereka demi kebahagiaanku.
Aku bosan....
Aku bosan menerima kekangan yang terus menerus terjadi kepadaku.
Aku ingin sekali hidup dengan tenang, penuh kedamaian, kebebasan tanpa harus ada kekangan dari berbagai pihak. Semoga saja mereka tahu apa yang kurasa namun jangan sampai mereka hanya sok tahu apa yang aku rasa.
Aku yakin pasti mereka tak ingin tahu apa yang aku rasa kini. Aku yakin pada diriku apa yang mereka lakukan padaku hanya untuk kesenangan mereka sendiri. Aku ingin pergi dari kehidupan seperti ini..... aku ingin bebas dari kenistaan orang-orang yang selalu meremehkanku. Aku yakin pasti kelak masih ada yang dapat menghargai perjuanganku demi kebebasan berekpresi dalam diriku walaupun malam selalu kelabu bagiku.
[*] Tulisan ini kutujukan bagi orang-orang yang telah menyakiti hatiku, walaupun orang itu t’lah melahirkanku. Maafkan aku ibu jika ini yang bisa aku sampaikan, semoga ibu dan yang lain bisa mengerti isi hatiku. Yang terpenting aku bukan pelampiasan praktek sinetron sindrom………..
Malam Kelabu
By. Dian T Indrawan
[*]Rasa kantuk menghampiriku seolah tak ada keadaan yang lain. Ku pulang dengan sedikit rasa nyeri dikepala ‘ntah apa yang ku rasakan kini. Pukulan demi pukulan tanpa alasan yang jelas, ku terima dari orang-orang yang merasa mengerti diriku namun mereka masih sulit mengakui bahwa mereka termasuk orang-orang yang sok tahu akan sosok diriku sesungguhnya. Aku bukanlah seorang dewa yang turun di bumi, namun aku dilahirkan untuk menjalani hidup walaupun susah. Susah dari kekangan keluarga yang masih saja membatasiku untuk aku dapat berkreasi sesuai dengan kemampuanku tanpa ada celah bagiku untuk berbuat sesuatu.
Aku mencoba untuk teriak, teriak, teriak....
Tapi keadaan berkata lain, semakin aku berteriak keras, semakin ketat ikatan tali yang membatasiku. Hidupku seperti berada di neraka, hidupku seperti ada di penjara yang telah dilapisi oleh bara api yang sangat panas.
Aku semakin bimbang apa yang harus ku perbuat....
Menangis? Tertawa? Bernyanyi? Ataukah aku harus berdiam diri seolah tidak terjadi apa-apa? Mana mungkin aku bisa melakukan hal yang tidak dapat aku lakukan. Aku ingin bebas dari penjara yang dipenuhi bara api ini. Kemunafikan pada diri mereka juga t’lah memicikkan semua yang ada dalam mata mereka demi kebahagiaanku.
Aku bosan....
Aku bosan menerima kekangan yang terus menerus terjadi kepadaku.
Aku ingin sekali hidup dengan tenang, penuh kedamaian, kebebasan tanpa harus ada kekangan dari berbagai pihak. Semoga saja mereka tahu apa yang kurasa namun jangan sampai mereka hanya sok tahu apa yang aku rasa.
Aku yakin pasti mereka tak ingin tahu apa yang aku rasa kini. Aku yakin pada diriku apa yang mereka lakukan padaku hanya untuk kesenangan mereka sendiri. Aku ingin pergi dari kehidupan seperti ini..... aku ingin bebas dari kenistaan orang-orang yang selalu meremehkanku. Aku yakin pasti kelak masih ada yang dapat menghargai perjuanganku demi kebebasan berekpresi dalam diriku walaupun malam selalu kelabu bagiku.
[*] Tulisan ini kutujukan bagi orang-orang yang telah menyakiti hatiku, walaupun orang itu t’lah melahirkanku. Maafkan aku ibu jika ini yang bisa aku sampaikan, semoga ibu dan yang lain bisa mengerti isi hatiku. Yang terpenting aku bukan pelampiasan praktek sinetron sindrom………..
19 Januari 2009
SEMUA TENTANG DIRIKU
Oleh. Dian T Indrawan
Adakah orang bertanya, pernahkah dirinya mengetahui tentang diriku yang sebenarnya? Adakah orang bertanya, pernahkah aku meninggalkan kesan terbaik kepadanya? Jiwaku ini adalah diriku, diriku bukanlah sosok dari jiwaku. Jemariku telah bekerja dengan otakku tetapi bukanlah dengan jiwaku. Jiwaku adalah kumpulan perilaku, perilaku yang terdapat pada diriku yang terdiri dari susunan tulang, daging dan darah yang mungkin telah menyerap berbagai barang haram. Diriku bukanlah milikku seutuhnya.
Adakah orang yang pernah menerimaku apa adanya? Berjayalah kalimat-kalimat yang telah kutulis. Mereka adalah teman dan musuh yang terhormat dan ingin aku memasukkan diriku ke dalam tulisanku. Aku berharap dapat mendapat sapaan hormat yang sama dengan jiwaku. Tulisanku adalah salah satu ide yang diproduksi oleh otakku yang bersahaja dan tak dapat bercengkrama dengan perilaku. Sedangkan jiwaku telah memberitahukanku tentang semua pada dunia. Walau aku tak pernah berbuat yang sama kepada jiwaku...
Kekerasan jiwa adalah kekuatan hati, kekuatan jiwa bukanlah sebagai kekuatan hati. Hanya kesucianlah yang hanya dapat menjadi kekuatan hati seutuhnya. Kadang manusia terlalu picik, mereka masih menganggap bahwa kekuatan jiwa berdasarkan gejolak nafsu. Nafsu bukanlah sebagai kekuatan. Walau terkadang hidup akan terasa hampa tanpa adanya nafsu.
***
Di balik salju yang mulai turun, kulihat resah senyum Ralph. Aku tahu dirinya sedang mencari pelabuhan untuk egonya sendiri. Panas rindu mencari dinginnya jati diriku yang terabaikan di ranah asmara. Kau telah menggantikan kecemburuan senja dalam hidupku. Demikianlah ujung dari sebuah perjalanan panjangku dan merupakan akhir dari sebuah petualangan. Ku ’kan ke selatan, Ralph. ‘Tuk melihat musim panas dan memandangi merpati memadu cinta dan aku akan berenang di antara jiwa. Ralph, aku tahu kau ‘kan pergi ke utara ‘tuk menikmati kedinginan hati dan mencari kehangatan yang ku tak mengerti. Tetapi disanalah layaknya dirimu yang sesungguhnya.
Air mata mengiris halus jiwaku, ku usap t’lapak tangan ke wajah yang pucat dan terlihat ketakutan akan kehilangan nafas. Nafas yang mengalir dalam nafsu. Kubelai rambutmu dengan kelembutan malam serta getaran telah menyatu di ujung jari-jemari yang tak kuasa menahan gejolak kasih atas limpahan nuansa malam yang tak pernah bertepi. Tak’kan pernah kutinggalkan hatimu yang manangis pilu yang t’lah terpatri janji pada kedalaman nurani dan menyatu kegalauan dalam kasih meskipun kekuatan malam hendak meragas jiwaku.
Hari berganti hari, kulalui dengan kesendirian. Entah sampai kapan, sehingga akankah terjadi kebohongan di antara kita saat ini yang membuatku terluka dan seakan semuanya tak pernah terjadi. Ralph, dirimu yang t`lah berbohong, yang t`lah mendua dan dirimu pulalah yang t`lah hina diri. Semua ini terjadi begitu saja, namun aku tak inginkan kehadiranmu.
“Pergi! Pergi!”
Kar’na…. Aku masih menyayangimu dan aku masih mencintaimu. Akan tetapi kau tak pernah mau tahu akan semua isi hatiku. Ralph, aku selalu memikirkanmu dan selalu menyangimu. Ralph, kapan semua akan berakhir? Kapan kau kan sadar apa yang pernah kau perbuat kepadaku?
T’lah ku berfikir lama, aku bukanlah sosok yang sempurna bagimu, Ralph. Dan aku t’lah mengecewakanmu. Ralph, kau adalah seseorang yang t’lah lama kukenal dan berubah tuk selamanya. Aku pun mencoba tuk melupakanmu serta menutup hati untukmu. Sekarang adalah saatnya aku berfikir bahwa aku benar-benar mencintainya, sungguh rasa ini takkan pernah tergantikan dan akan s’lalu kusimpan sebagai sebuah kenangan.
Ralph, kau telah memberiku tawa, membuatku tersenyum dan kau juga yang membuatku menangis. Aku ingin menutup pintu hati untukmu, Ralph! Selamanya....[*]
KENANGAN INDAH BERSAMANYA
Oleh. Dian T Indrawan
(cerita ini sudah terjadi 2 tahun yang lalu)
Pada sekuntum mawar yang mekar dan air sungai yang mengalir disituku melihat terukir wajahmu dan tertulis…. kisah cinta kita berdua. Sebuah nostalgia yang lalu yang tidak mudah untukku lupakan dan masih ku simpan erat-erat didalam sebuah potret wajah kita bersama. Aku tahu cinta sudah mulai pergi, tidak lagi kunjung datang bahkan telah lari jauh dariku terlalu jauh entah dimana. Aku tahu cinta sedang sakit tidak lagi bangkit terlalu uzur untuk memandangku tidak ingin bersama dan bosan kepadaku. Aku tahu cinta mulai benci terhadapku. Kerana aku….dan ramai manusia lain… sudah berhati batu!
Layaknya kemarau rindukan hujan, ladangku tak lagi gersang yang tertutup tanah basah. Menyemir tampak tak tandus, risau yang dulu sempat menandu jiwa rapuh ini. Detak jantung ini tak lagi berirama sendu atau pun berlantun lagu kealpaan hati. Sajakku t’lah terbungkus, menyemai bersama perantauan jiwaku. Aku terdiam kian dalam. Aku melangkah dalam keanugrahan…. Mimpi, ini seperti mimpi. Aku tak ingin terjaga oleh mimpi nyata yang indah dan begitu sempurna. Aku ingin terus merasakan semua ini…
Senyummu adalah bahagiaku, ceriamu adalah dambaku, gelisahmu adalah kebimbanganku. Air matamu adalah kesedihanku, kau adalah pelipur lara dalam duka hatiku. Kau pengiring suka citaku. Ikatan ini berawal dari hati atas nama cinta. Jalinan ini bermula dari rasa atas nama sayang. Pertautan ini berasal dari angan atas nama rindu. Sungguh ini adalah cinta, sayang, dan rindu. Cinta, sayang, dan rindu atas nama pengabdianku kepadamu, Ralph. Malam ini bintang bersinar cinta, bulan tersenyum sayang, angin mendesir rindu. Wahai bintang, bulan dan angin, sampaikanlah salam cinta, sayang, dan rinduku kepadanya bahwa “Sungguh aku sangat mencintaimu, Ralph.”[*]
Cinta yang Tersakiti
Oleh. Dian T Indrawan
Andai saja ada malam ‘tuk melihat hatiku yang bimbang dan penuh tanda tanya. Tentang perasaan yang penuh sayang ‘
‘Tuk burung yang menyayangi langit, ‘tuk angin yang membelai lembut tubuhku. Kukatakan s’lalu ada cinta untukmu. Warna lembayung penyejuk hati dalam keheningan malam yang sunyi kutapaki jalan yang tak pasti, ‘tuk mengutarakan semua isi hati p’rasaan yang ingin mengubah hari, aku sederhana tak banyak tuntutan atau pun banyak pilihan. Namun selalu ada cinta untukmu.
Kau perlu tahu, Ralph. Cinta itu indah bila diwujudkan perih bila dikhianati, pahit bila dikenang. Mungkin suci ‘tuk mendapatkan cinta, kau lebih pantas mendapatkan cinta suci. Cinta sejati yang abadi s’lamanya. . . Mungkin terlalu sempit untuk menerima dalam lubuk hatiku.
Kubayangkan butir air mata memenuhi pelupuk matamu saat kau membacakan baris-baris kasih sayang. Ku sapa, beberapa butir air mata menggantung disukmaku menyeruak ke dunia menemani keharuanmu tak ada yang dapat terucap hari ini. Seperti hari kemarin, aku hanya membisu kutulis beberapa kata kehormatan kepadamu melalui sebuah
Kugoreskan bayangan air matamu yang terdorong keluar oleh kebahagiaan. Aku hanya berusaha menutupi jalan air mataku yang tak sanggup menahan keharuan menuntut jalan keluar, mungkinkah aku berteman dengan air matamu?
***
Ralph, Jangan kau mengucapkan! Jika kau telah mengkhianatiku. Sungguh aku baru memulainya, dikejauhan aku tersiksa karena suka duka yang kulewati sendirian. Tak ‘kan bisa tergantikan tak seindah selain bersamamu. Aku rindu ‘tuk menyelimutimu dikala malam kelam, rindu kemarahan dan air mata s’lalu menuduhku pencipta masalah. Aku mengerti kepergianmu bukan untuk menjauh dariku. Bukan kar’na kau membenciku. Sungguh yang kau lakukan demi kebahagiaan kita berdua. Meski dipengaruhi oleh sebuah eksistensi. S’mua harus ikhlas dan sabar niat tulus dan suci tanpa tendensi.
Andai saja kau dapat hadapi satu permasalahan yang seperti ritme dari perjuangan cinta. Jangan tak ada sapa atau pun tak ada senyum. Jangan pernah melarikan diri dari masalah. Meski diriku dipenuhi kontroversi dari keluarga yang luar biasa. Ralph, semua perasaan yang ada t’lah membebaniku. Jarak telah memisahkan aku denganmu. Bagaimana kau tahu tentang diriku disini begitu mengingatmu? Kita tak pernah berucap. Bagaimana kau tahu jika hatiku tak mampu berpaling? Diriku selalu merasa ragu atas cintamu kepadaku. Saat kau’kan pergi jauh. Demi kerinduan sebuah pengabdian, aku masih mengingatmu... Aku tak ‘kan melupakanmu. Ralph yakinlah aku akan menunggumu.
***
Dalam dekapan rasa berapa kali aku duduk di sini. Dalam kerinduan. Berapa kali lagi aku akan di sini. Dengan segala asa. Masih duduk di dermaga tua ini. Entah, sampai kapan? Mungkin sampai tak lagi ada kerinduan untuk mu. Menit…., detik...., semuanya berlalu dengan cepat dan tanpa terasa. Dan perubahan pun s’lalu ada. Walau dunia semakin kacau dan kedamaian bumi s’makin punah. Cinta sejati t’lah menjauh tinggalkan sisa-sisa yang tak berarti. Mungkinkah aku dapat bertahan hingga akhir jaman? Karena bumi makin lelah untuk menanggung beban manusia yang semakin berat. Adakah tempat yang tersisa untuk hatiku pada dirinya?
Untuk apa aku berdiri, bila tak ada satu pun cinta yang dapat menemani langkahku yang sepi. Percuma aku hidup bila aku tak bisa bersanding dengannya dan jika aku tak bisa memilikinya. Kenapa cinta tak pernah bisa membalas semua? Kenapa rindu tak pernah dapat terobati? Bila cinta..... hanya dapat disakiti, maka hancur hatiku jika tanya..... tak pernah terjawab. Aku tak tahu apa isi hatimu...
Ralph, satu malam yang indah ditemani gemerlapnya bintang dan rembulan yang bersinar indah. Mengingatkan akan dirimu yang selalu menemaniku. Namun saat bulan dan bintang bersinar indah, dirimu tak ada disampingku. Aku merasa seakan kau jauh, malam-malam tak bersama aku merasa sepi dalam hidup. Bagaikan bintang tak ditemani bulan dan bagaikan bulan tak ditemani bintang.[*]
DONGENG UNTUK SANG KEKASIH
Oleh. Dian T Indrawan
Bangun, bangun! Aku memanggilmu di balik seribu rasa ketakuatanku. Aku membentangkan sayap-sayapmu kearah dirimu, kekasihku. Bangunlah kekasihku! Karena gerakan yang terjadi t’lah menghentikan dan kesunyian yang telah mengkuatkan semua gemuruh dentang kuku. Langkah kaki diluar sana mulai berhenti dan tidur selalu memeluk jiwa manusia. Aku terbangun sendiri, kar’na kerinduan menarikku menuju keselamatan kapan saja, dan tidur akan selalu menyeretku. Kekasihku! Cinta t’lah menyeretku dekat denganmu sedangkan ketakutanku mulai memudar sejak bersamamu disini. Aku disini meninggalkan tempat tidurku, aku takut akan mimpi-mimpi yang disembunyikan di dalam selimut yang terlipat rapi. Kulemparkan buku ke atas meja, karena helaan nafsu telah membakar semua garis-garis halamannya dan meninggalkan ruang kosong putih dihadapanku. Bangun! Dengarkanlah aku…..!
Cintaku, aku mendengar seruanmu dari balik rasa ketakutan dan merasakan sayap-sayapku hingga terasa kaku. Aku akan bangun dan segera pergi ke halaman luas di luar sana. Kakiku dan busanaku kini basah oleh embun malam yang ganas. Aku berdiri disini dan mendengarkan seruan dari jiwamu, cintaku.
Bicaralah kepadaku kekasihku, dan biarkanlah nafasmu terbang bersama angin yang bertiup berbalik arah dari lembah-lembah perbukitan menoreh. Hanya saja aku akan mendengar, karena kegelapan t’lah mengantarkan semua orang untuk kembali beristirahat. Semua orang telah beranjak untuk tidur namun aku ‘kan tetap mendengarkanmu. Cintaku, langit t’lah mencoba membuat sebuah kerudung malam dari sinar bulan yang cantik dan melemparkannya menutupi tubuh Indonesia.
***
Sayangku, di malam yang gelap ini, langit bagaikan permadani yang tebal, menjebak semua polusi dari pabrik dan nafas kematian serta ia juga berhasil menyembunyikan tulang rusuk kota. Warga kota mulai terlentang dalam gubuk-gubuknya yang dibangun dari tumpukan batu bata yang disusun oleh suami-suami mereka. Cintaku, tahukah engkau mereka sekarang sedang berlomba-lomba menuju panggung mimpi-mimpi indah mereka.
Dosa-dosa yang berat kini telah membukukkan punggung mereka. Kuda-kuda mereka sudah letih untuk berjalan menapaki lorong-lorong cinta yang berbatu. Sayangku tahukah engkau, mereka mulai menutup mata untuk malam ini. Aku sangat takut akan hantu-hantu malam yang penuh dengan keputusasaan.
Cintaku, aku mulai merasakan beratnya bulu mata. Dapatkah kita berdua untuk melemparkan diri diatas tempat tidur cinta kita? Cabang-cabang pohon bergoyang di terjang angin malam yang kejam. Mimpi-mimpi buruk mulai beraksi, mengganggu manusia yang penuh dengan ketidakpastian. Aku menangis dalam tidurku, sayangku, aku merasa takut tidur disini. Tenanglah, cintaku, aku berada disampingmu. Aku tak’kan pernah meninggalkanmu sedirian menggapai mimpi dan cita-cita. Sayangku, dengarlah! Tetangga kita gemetar, tak tahan menahan lapar. Helaannya terengah-engah, dahi mereka berkerut bersama sebuah keputusan dan tuntutan hidup.
Wanginya bunga sedap malam telah mengisi udara. Angin malam yang dingin telah membawa mereka diatas puncak bukit yang mengisi setiap jiwa manusia dengan kerinduan dan selalu membuat mereka semakin rindu untuk bergerak lembut di awan.
***
Pagi hari telah tiba, mata yang tertidur mulai terbuka. Cahaya pagi memberkas dari balik tirai kamarku yang telah menyembunyikan tenaga kehidupan. Segarnya pagi telah membangunkan para penghuni kota yang telah bersandar dari keheningan dan kesunyian malam. Suara-suara pagi mulai menyerukan untuk mulai ibadah pagi dan ayam-ayam jantan mulai bersua seolah-olah semua isi alam berdoa. Sekawanan burung gereja mulai bernyanyi. Aku berjalan keluar untuk mengendorkan otot-otot yang kaku.
Kekasihku, pagi hari telah tiba. Menyebarkan pesona dengan sinar matahari yang hangat. Tirai-tirai ditarik dari jendela-jendela dan pintu-pintu dibuka untuk membuka raut-raut wajah yang kelabu dengan mata mereka yang penuh dengan kekhawatiran yang selalu bersanding dengan kehidupanku. Kekasihku, mengapa keputusasaan dan ketakutan selalu membayangi hidupku? Bayangan ini seakan-akan menggelapkan semua asa.
Cintaku, tenanglah. Jalan masih panjang, janganlah engkau takut menghadapi pertempuran ini. Semangatlah cintaku, jalan-jalan di luar sana mulai dipadati manusia dengan jalannya yang tergopoh-gopoh dan polusi pun mulai menebal serta gerimis yang jatuh dari langit dapat menjadi temanmu disini. Kota ini adalah arena yang tepat untukmu, karena kau dapat menempuhnya dengan belajar yang kuat demi mencapai cita-citamu.
***
Terima kasih, kekasihku. Hidup ini terasa indah jika aku selalu disisimu. Cintaku, aku memiliki perasaan yang sama, hidup ini seperti berada di surga yang di isi dengan kehidupan dan kehalusan. Namun tidak bagi mereka yang berada di luar sana. Kekasihku, hidup disini bagai neraka yang dipenuhi dengan keburukan dan ketakutan.[*]



