Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

15 Desember 2009

Mantra Cinta: Cupid’s Love Juice

…..Having once this juice, I’ll watch Titania when she is asleep And drop the liquor of it in her eyes…


Secure upon-sat stones of promontory.

Sprak’d essence of the madly shooting stars

One drop or two of anything wat’ry.

Some semblance of a milk-white western flower

Fulfill a pot of purely mineral with ingredients which you’ve gathered carefully,

Upon said bowl, bestow harmonious breath

Till thou remember’st pure whose love you seek

Allow this precious time to meditate

Their quenched thirst your just deserved prize!

United they conspire to charm you mate.

With purple liquor destined for love’s eyes.

“Now with a deft and musical note, rejoice, to give your deepest love – desire strong voice.”


(by: William Shakespeare: A Midsummer Night’s Dream, Chapter 12 -13)

08 September 2009

Alam dan kutukan

Alam s'makin tak bersahabat.
Alam s'makin menggeliat.
Manusia kini semakin tersengat.
Manusia yang sedang tidur berhamburan seperti lalat.
Tuhan, ampunilah kami yang terlalu bejat dan laknat.
di mata-Mu.

Cinta, Rasa, dan Asa

Oleh. Dian T Indrawan

Aku terluka kar'na cinta.
Aku tersiksa ka'na rasa.
bahkan aku seperti ini karena kasih.
aku bukanlah robot.
aku bukan pula boneka
tapi aku hanyalah manusia yang punya rasa
atas segala asa.
cinta bagiku hampa akan rasa.
Rasa bagiku adalah pedih akan kasih.
dan Asa bagiku adalah segalanya.

06 September 2009

Pemimpin yang Pecundang

Oleh. Dian T Indrawan

Sang pemimpin murka, bawahanmu nestapa.
Sang pangeran murka, ajudanmu menderita.
Sang pemimpin beringkah, bawahan selalu disalahkan.

Apa tak ada kata selain "murka & bertingkah"?
Apa semua tingkah gegabahmu juga kesalahan ajudanmu?
Ajudanmu itu adalah bagian dari hidupmu.
Tanpa mereka, kamu tak dapat menjadi seperti saat ini.

Kau selalu ingin dimengrti, tapi kau tak mau mengerti semua yang ada di sekitarmu.
Kau tak pantas menjadi pemimpin yang di hormati.
Kau tak pantas menjadi seorang pangeran kerajaan yang pantas untuk disegani
Kau hanyalah seorang pengecut, pecundang yang pantas untuk direndahkan.

Jika kau memang benar-benar seorang pemimpin bahkan seorang pangeran,
kau tak perlu takut ketika titisan Rahwana murka membanting gelas kristalnya.
Jika kau memang benar-benar bukan seorang pecundang dan pengecut,
kenapa kau tak berani muncul dihadapan mereka yang juga murka kepadamu?

Kaulah seorang pengecut dan pecundang,
yang hanya bisa menjatuhkan amarah dan kesalahan ke orang lain.

17 Juli 2009

Ich liebe dich

Man kann nie sagen, ich bin halb tot mu verfolgen meine Liebe

aber jetzt, dass Sie kein Liebhaber ich wissen

Sie haben die Fernbedienung nicht liebt mich nicht mehr

Wenn Sie wieder gelobt wie mich, wenn Sie jagen mich?

Wenn Sie noch einmal sagen ich liebe dich?

Ich liebe Dir, dass zunächst aus dem Herzen.

27 Mei 2009

Perasaanku Kini Padanya

Oleh. Dian T Indrawan

I. Perasaanku Kini Padanya : Bimbang Akan Cinta

Ku rasakan getaran cinta di setiap tatapan matanya.
Andai saja ku dapat mencoba tuk berpaling.
Apakah sanggup tuk menghadapi kenyataan ini?
Tuhan, tolonglah aku!
Janganlah kau biarkan diriku, jatuh cinta kepadanya.
sebab seandainya saja itu terjadi, akan ada hati yang terluka.
Walaupun s'mua ini terasa indah, andai ku dapat juga dirinya.
Namun ku harus tetap bertahan pada cinta yang terlebih dulu hadir,
dalam perjalanan ini.

maka, Tuhan, Tolonglah aku!


II. Perasaanku Kini Padanya : Kapan Kau Ucapkan Cinta padaku?

Kau memang pernah bilang kepadaku sebagai setengah matimu
tuk mengejar cintaku.
Tapi kini kau bukanlah seorang kekasih yang pernah ku kenal dulu.
Kau kini t'lah berubah, semakin jauh....
sudah tak mencintaiku lagi...
Kapankah kau memuji diriku seperti saat kau mengejarku?
kapankah kau ucapkan I Love You dari hatimu seperti dulu?
Kau tak mau mendengarkan apa yang aku inginkan lagi...
Kau kini t'lah berubah dan sudah tak mencintaiku lagi.

27 Februari 2009

Tak Terlalu Penting

Pagi-pagi aku datang, 'tuk kenyamanan bekerja
Pagi-pagi aku datang, 'tuk semua yang ku anggap penting
Aku rela, ketika aku harus menelan pahitnya bekerja
Aku rela, ketika aku harus di bayar dengan tumpukan kertas

Tapi,
Tapi kini aku mulai berfikir.
Apakah aku harus bekerja tanpa menghasilkan uang sepeser pun?
Apakah aku harus bekerja dengan semua tumpukan-tumpukan kertas yang kosong?

Aku ingin bekerja untuk menyambung hidup
Memang aku bukanlah seorang SENIMAN seperti DIA
yang dapat mempertahankan hidup dengan BERHALA-BERHALAnya.

Kepedihanku terasa semakin perih,
ketika aku memohon izin kepadanya.

"Maaf, saya tidak dapat hadir pada tanggal 6-10 Maret 2009, karena saya harus hadir dalam launching buku dan pameran tunggalku."

Dengan lantang si PEMAHAT BERHALA itu menjawab.

"KAU TAK TERLALU PENTING DISINI"

Dalam hatiku aku hanya bertanya:

"Jika aku tak terlalu penting dengan ORGANISASIMU, buat apa aku harus berkorban demi ORGANISASIMU?

Jika aku tak terlalu penting DISANA, buat apa aku harus memiliki keinginan untuk mencalonkanmu di sebuah KOMPETISI NASIONAL?

Aku sangat kecewa dengan perilaku-perilakunya kepadaku.
Aku sangat menyesalkan atas sikap-sikapnya kepadaku yang selalu menusuk dari belakang.

Jika memang dia seorang pemimpin yang baik, pastinya dia tak'kan menusuk dari belakang.
Jika memang dia seorang yang pemberani, pastinya dia akan menghadapi lawannya dari depan.

Pantaskah DIA disebut seorang yang PENGECUT? Pantaskah DIA disebut sebagai pemimpin yang SOK BERANI?

Memang pantas, jika DIA disebut sebagai:

"PECUNDANG, PENGECUT, yang SOK BERANI memimpin"


Tulisan ini ditujukan untuk semua temen-temen baik itu di bidang seni ataupun bidang lainnya. yang mungkin akan menjadi seorang pemimpin. Janganlah kalian MENIRUnya, sebagai pemimpin yang SOK BERANI, PECUNDANG, PENGECUT.

salam

Dian T Indrawan

28 Januari 2009

Ingin Bahagia

By Dian T Indrawan


[*]Aku tak pernah tahu apa yang ada dihatimu, kau tak pernah tahu isi hatiku ini. Hati kecilku t’lah lama tersakiti olehmu. Namun kau selalu masih menganggapku seperti mentari yang tak dapat menghangatkan hatimu, seperti pelangi yang tak dapat memberi warna dalam kehidupan ini. Seperti bulan yang tak dapat menerangi malammu.


Kau hanya inginkan aku bahagia dengan caramu, kau inginkan aku meraih mimpi-mimpi kosong darimu. Tapi...... Semua itu salah! Aku ingin sekali meraih mimpi-mimpiku sendiri. Aku ingin bahagia dengan caraku sendiri. Sebagai anak, aku hanya dapat berharap dan selalu mengharap kau kan dapat berubah. Menerima aku apa adanya dengan segala kemampuan yang ku miliki.


Aku lelah, lelah mengejar mimpi-mimpi kosong darimu. Aku selalu menahan amarahku

‘tuk terus berlari mengejar harapan yang kau inginkan. Walau dalam hati kecilku ini, aku terus berontak untuk dapat bahagia. Aku telah muak, muak dengan semua yang aku lakukan demi kebahagiaan yang kau berikan. Karena bagiku kebahagian, keceriaan darimu adalah tangis, tawa dan senyuman dari mu adalah siksa batin. Aku tetap ingin merasakan kebahagian tanpa harus ada beban darimu[†].



[*] Puisi ini adalah isi hatiku yang selalu ingin kuutarakan pada seseorang yang telah melahirkanku, tapi biarlah isi hatiku ini kutulis dalam bentuk puisi-puisi agar teman-teman dapat membaca dan ikut merasakan betapa sakitnya jika diperlakukan tidak adil.

[†] Buat teman-teman yang ingin memberikan komentar atas tulisan-tulisanku selama ini langsung saja kirim email ke diantindrawan@gmail.com

23 Januari 2009

Semua dalam Keraguan

By. Dian T Indrawan

Hari t’lah mulai senja

Matahari t’lah bersembunyi di balik tirai malam yang kelam

Ayam-ayam diluar sana tak lagi berkokok

Anjing-anjing liar yang birahi diluar sana pun mulai merokok

Namun hatiku tetap saja seperti terbelah golok.

Andai saja aku dapat berteriak....

Andai saja aku dapat berlari....

Pasti hidupku tak dipenuhi dengan keraguan

Aku bukanlah malaikat yang bersayap dan memiliki wajah yang rupawan

Aku hanyalah malaikat yang tak bersayap dan tak memiliki wajah yang rupawan

Mungkinkah aku ini t’lah menjadi gila?

Mungkinkah aku ini tak lagi normal?

Aku tak tahu dengan semua ini

Kar’na semua dalam keraguan alam.[*]



[*] Puisi ini adalah salah satu dari sekian banyak masalah yang sedang aku hadapi, baik berupa celaan, kontroversi dari orang tua hingga anggapan orang tua terhadap keberadaanku. Ini juga sebagai media untuk dapat meluapkan kekesalanku.

21 Januari 2009

Januari yang Kelabu

by. Dian T Indrawan

Di puncaknya musim penghujan ini
terasa basah dan menyakitkan
kau hadir menghantar berjuta kesedihan bagiku.
Kasih kau beri sumbatan untuk nafasku
kau menambah kelabu jiwaku.

Tatkala hujan mengusik impian,
impian semuku....
Kau pergi dibatas kerinduanku.
Kasih kau gores lara hatiku,
kau rusak harapan-harapan dalam diriku.

Januari yang kelabu,
hanya menjadi milikku.
Ketika rembulan tertutup oleh gelapnya malam
diantara sunyinya malam yang kelam,
kau menangkap sebersit isyarat di mata hatiku.
Kasih kau t'lah menutup sanubariku.
Kau bawa diriku berlari dalam amarahmu.
Yang menyakitkan hatiku.

Bagian yang Hilang dari Hidupku

by. Dian T Indrawan

Waktu terus berlalu seiring langkahku
Yang terung ku coba 'tuk lewati hari demi hari

Kadang....,
Kadang ku tak mengerti
semua yang terjadi
Semua saling merindu
tapi saling melupa jua

Tak pernah ku rasa lagi,
hangat peluknya di sini.
Tak pernah ku dapat lagi,
belaian kasihnya di sini.
Waktu terus berlalu membawa diriku,
dalam suka,
dalam duka.
Bahkan hingga aku menangis dan tertawa.

Tak pernah ku dengar lagi,
suara tawanya di sini.
Tak pernah ku lihat lagi,
senyum kecilnya disini

Ku ingin tertawa terus bernyanyi dan menari,
riang gembira.
Apakah.......
apakah ini pernah kurasakan?
S'mua tak ada....
tak ada yang abadi.

Yang t'lah pergi tak'kan kembali
dan bagiku....
Yang hilang akan tetap hilang
hingga semuanya sirna.

19 Januari 2009

Salam Perpisahan

Ditulis Oleh Dian T Indrawan[*] pada Minggu, 21 Desember 2008. Dibacakan Oleh Kaspul Hadi[†] pada Senin, 22 Desember 2008, pukul 20.30 WIB, di Masjid Baiturrahman, Tundan.


Nama-nama yang terhormat yang ku bingkai,

s’makin menempat rapi di hati

Wujudnya tenang,

tampak begitu gemilang


Bapak, ibu, saudara yang kami hormati.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat,

izinkan kami bicara ‘tuk menyampaikan kabar yang telah nyata

yaitu sejak pukul enam tadi, alam ini sudah berubah menjadi lagu perpisahan

sampai sekarang dia sudah bisa memasuki arena ini

bahkan dia t’lah sepakat mewarnai suasana disekeliling kita ini.

Bisakah semua ini berganti dengan keadaan lain?

Semuanya tak ada yang bisa menjawab!

Sebab kenyataanya sudah menjadi hampa,

bahkan keadaan ini sudah bisa menghempaskan kami

‘tuk tidak bisa berbuat apa-apa.

Ternyata s’karang kami hanya bisa menempati ruang-ruang kosong dalam hidup ini


Bapak, ibu, saudara yang kami cintai.

Dalam perpisahan ini kami hanya bisa menjadi s’kelompok kecil,

dari manusia-manusia yang paling bersedih.

Bersedih, karena ketololan-ketololan kami selama tinggal di dusun Tundan.

Bersedih, karena memang kami manusia-manusia yang tak tau diri.


Baru kami sadari, warga dusun Tundan dapat merubah s’gala keadaan.

Bila ternyata kami tidak tau, warga mendidiknya menjadi tau.

Bila ternyata kami lemah, warga merubahnya menjadi kuat.

Dan bila ternyata kami keliru, warga merubahnya menjadi mengerti.

Kesedihan ini sudah nampak lebih sempurna.

Kar’na memang mungkin sesaat lagi kami akan pulang.

Hanya kepada Allah kami serahkan semua ini

Mudah-mudahan bimbingan dan budi baik warga Tundan terhadap kami bisa ditulis menjadi amal sholeh. Amin..


Bapak, ibu, saudara yang kami cintai.

Izinkan kami pulang........


Selanjutnya dari sekian banyaknya kesalahan dan dosa-dosa kami terhadap warga Tundan, dengan segala rendah hati, kami meminta maaf dan sejuta ampunan. ‘Tuk ketentraman dan langkah kami berikutnya.

Kami tak ingin mendengar,

ada yang berusaha memisahkan hati dan diri dari tempat ini.


Gemuruh suara dan hati kami berdo’a,

s’moga warga dusun Tundan yang kami cintai ini,

s’nantiasa berada dalam rahmat dan karunia serta perlindungan Allah.

Dan dusun Tundan yang kita cintai selamanya

Terbebas, terhindar dari segala ancaman dan mara bahaya yang akan menimpanya


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.....

Tak ada yang besar melebihi kebesaran-Nya

Tak ada yang kuat melebihi kekekuatan-Nya

Bapak, ibu, saudara warga Tundan,


KAMI PULANG !!!!!!



[*] Penulis Novel “Jangan Panggil Aku Gay (2004), Isyarat Cinta(2006), Lembayung Syurga(2006), Das is Schön(2007), Management of Love(2007), Public Relation for Hotel Industry(2008)”, Skenario Film “The Root (Dendam yang Tak Terbalas / 2007)”, Skenario Iklan “The Coffee Shop” (2008).

[†] Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta angkatan 2005. Membacakan puisi karya Dian T Indrawan saat perpisahan dengan warga Tundan, Ds. Ngrame. Bantul.

12 Januari 2009

KISAH MENJELANG SENJA

by. Dian T Indrawan


Tik...tak...tik...tak...
Terdengar bunyi suara jam. Aku bersujud menyembah langit
tertanda hari t’lah senja,

matahari tiada lagi bernyawa
saat aku bertamu ke pondok kecilmu
kau suguhkan secangkir emosi lewat mimik wajah
yang tertera lewat monitor di sebelah laptop yang menjanda
kenapa . . .?
Padahal aku datang bersama bingkisan cerita
yang kubungkus dalam pita berhiaskan bunga
tapi kenapa . . .?
Engkau mengiraku datang bersama kenangan lama
bergoreskan duka hati yang menyayat batin cinta
ingatkah kau . . .?
Ketika aku melukismu di kanvas hingga kau dan aku tertawa terbahak
bahkan engkau sampai tersenyum malu
tatkala aku melantunkan

ayat-ayat cinta dengan kesungguhan hati
tik...tak...tik...tak...
Terdengar bunyi suara jam bersujud menyembah langit
apakah engkau masih mengira
aku datang bersama bingkisan kenangan lama
bergoreskan duka durjana yang menyayat batin cinta?

 
SPOT ABU-ABU - Free Blogger Templates, Free Wordpress Themes - by Templates para novo blogger HD TV Watch Shows Online. Unblock through myspace proxy unblock, Songs by Christian Guitar Chords