19 April 2014
15 Desember 2009
Mantra Cinta: Cupid’s Love Juice
…..Having once this juice, I’ll watch Titania when she is asleep And drop the liquor of it in her eyes…
Secure upon-sat stones of promontory.
Sprak’d essence of the madly shooting stars
One drop or two of anything wat’ry.
Some semblance of a milk-white western flower
Fulfill a pot of purely mineral with ingredients which you’ve gathered carefully,
Upon said bowl, bestow harmonious breath
Till thou remember’st pure whose love you seek
Allow this precious time to meditate
Their quenched thirst your just deserved prize!
United they conspire to charm you mate.
With purple liquor destined for love’s eyes.
“Now with a deft and musical note, rejoice, to give your deepest love – desire strong voice.”
(by: William Shakespeare: A Midsummer Night’s Dream, Chapter 12 -13)
08 September 2009
Alam dan kutukan
Alam s'makin menggeliat.
Manusia kini semakin tersengat.
Manusia yang sedang tidur berhamburan seperti lalat.
Tuhan, ampunilah kami yang terlalu bejat dan laknat.
di mata-Mu.
Cinta, Rasa, dan Asa
Aku terluka kar'na cinta.
Aku tersiksa ka'na rasa.
bahkan aku seperti ini karena kasih.
aku bukanlah robot.
aku bukan pula boneka
tapi aku hanyalah manusia yang punya rasa
atas segala asa.
cinta bagiku hampa akan rasa.
Rasa bagiku adalah pedih akan kasih.
dan Asa bagiku adalah segalanya.
06 September 2009
Pemimpin yang Pecundang
Sang pemimpin murka, bawahanmu nestapa.
Sang pangeran murka, ajudanmu menderita.
Sang pemimpin beringkah, bawahan selalu disalahkan.
Apa tak ada kata selain "murka & bertingkah"?
Apa semua tingkah gegabahmu juga kesalahan ajudanmu?
Ajudanmu itu adalah bagian dari hidupmu.
Tanpa mereka, kamu tak dapat menjadi seperti saat ini.
Kau selalu ingin dimengrti, tapi kau tak mau mengerti semua yang ada di sekitarmu.
Kau tak pantas menjadi pemimpin yang di hormati.
Kau tak pantas menjadi seorang pangeran kerajaan yang pantas untuk disegani
Kau hanyalah seorang pengecut, pecundang yang pantas untuk direndahkan.
Jika kau memang benar-benar seorang pemimpin bahkan seorang pangeran,
kau tak perlu takut ketika titisan Rahwana murka membanting gelas kristalnya.
Jika kau memang benar-benar bukan seorang pecundang dan pengecut,
kenapa kau tak berani muncul dihadapan mereka yang juga murka kepadamu?
Kaulah seorang pengecut dan pecundang,
yang hanya bisa menjatuhkan amarah dan kesalahan ke orang lain.
17 Juli 2009
Ich liebe dich
Man kann nie sagen, ich bin halb tot mu verfolgen meine Liebe
aber jetzt, dass Sie kein Liebhaber ich wissen
Sie haben die Fernbedienung nicht liebt mich nicht mehr
Wenn Sie wieder gelobt wie mich, wenn Sie jagen mich?
Wenn Sie noch einmal sagen ich liebe dich?
Ich liebe Dir, dass zunächst aus dem Herzen.
27 Mei 2009
Perasaanku Kini Padanya
27 Februari 2009
Tak Terlalu Penting
Pagi-pagi aku datang, 'tuk semua yang ku anggap penting
Aku rela, ketika aku harus menelan pahitnya bekerja
Aku rela, ketika aku harus di bayar dengan tumpukan kertas
Tapi,
Tapi kini aku mulai berfikir.
Apakah aku harus bekerja tanpa menghasilkan uang sepeser pun?
Apakah aku harus bekerja dengan semua tumpukan-tumpukan kertas yang kosong?
Aku ingin bekerja untuk menyambung hidup
Memang aku bukanlah seorang SENIMAN seperti DIA
yang dapat mempertahankan hidup dengan BERHALA-BERHALAnya.
Kepedihanku terasa semakin perih,
ketika aku memohon izin kepadanya.
"Maaf, saya tidak dapat hadir pada tanggal 6-10 Maret 2009, karena saya harus hadir dalam launching buku dan pameran tunggalku."
Dengan lantang si PEMAHAT BERHALA itu menjawab.
"KAU TAK TERLALU PENTING DISINI"
Dalam hatiku aku hanya bertanya:
"Jika aku tak terlalu penting dengan ORGANISASIMU, buat apa aku harus berkorban demi ORGANISASIMU?
Jika aku tak terlalu penting DISANA, buat apa aku harus memiliki keinginan untuk mencalonkanmu di sebuah KOMPETISI NASIONAL?
Aku sangat kecewa dengan perilaku-perilakunya kepadaku.
Aku sangat menyesalkan atas sikap-sikapnya kepadaku yang selalu menusuk dari belakang.
Jika memang dia seorang pemimpin yang baik, pastinya dia tak'kan menusuk dari belakang.
Jika memang dia seorang yang pemberani, pastinya dia akan menghadapi lawannya dari depan.
Pantaskah DIA disebut seorang yang PENGECUT? Pantaskah DIA disebut sebagai pemimpin yang SOK BERANI?
Memang pantas, jika DIA disebut sebagai:
"PECUNDANG, PENGECUT, yang SOK BERANI memimpin"
Tulisan ini ditujukan untuk semua temen-temen baik itu di bidang seni ataupun bidang lainnya. yang mungkin akan menjadi seorang pemimpin. Janganlah kalian MENIRUnya, sebagai pemimpin yang SOK BERANI, PECUNDANG, PENGECUT.
salam
Dian T Indrawan
28 Januari 2009
Ingin Bahagia
By Dian T Indrawan
[*]Aku tak pernah tahu apa yang ada dihatimu, kau tak pernah tahu isi hatiku ini. Hati kecilku t’lah lama tersakiti olehmu. Namun kau selalu masih menganggapku seperti mentari yang tak dapat menghangatkan hatimu, seperti pelangi yang tak dapat memberi warna dalam kehidupan ini. Seperti bulan yang tak dapat menerangi malammu.
Kau hanya inginkan aku bahagia dengan caramu, kau inginkan aku meraih mimpi-mimpi kosong darimu. Tapi...... Semua itu salah! Aku ingin sekali meraih mimpi-mimpiku sendiri. Aku ingin bahagia dengan caraku sendiri. Sebagai anak, aku hanya dapat berharap dan selalu mengharap kau kan dapat berubah. Menerima aku apa adanya dengan segala kemampuan yang ku miliki.
Aku lelah, lelah mengejar mimpi-mimpi kosong darimu. Aku selalu menahan amarahku
‘tuk terus berlari mengejar harapan yang kau inginkan. Walau dalam hati kecilku ini, aku terus berontak untuk dapat bahagia. Aku telah muak, muak dengan semua yang aku lakukan demi kebahagiaan yang kau berikan. Karena bagiku kebahagian, keceriaan darimu adalah tangis, tawa dan senyuman dari mu adalah siksa batin. Aku tetap ingin merasakan kebahagian tanpa harus ada beban darimu[†].
[*] Puisi ini adalah isi hatiku yang selalu ingin kuutarakan pada seseorang yang telah melahirkanku, tapi biarlah isi hatiku ini kutulis dalam bentuk puisi-puisi agar teman-teman dapat membaca dan ikut merasakan betapa sakitnya jika diperlakukan tidak adil.
[†] Buat teman-teman yang ingin memberikan komentar atas tulisan-tulisanku selama ini langsung saja kirim email ke diantindrawan@gmail.com
23 Januari 2009
Semua dalam Keraguan
By. Dian T Indrawan
Hari t’lah mulai senja
Matahari t’lah bersembunyi di balik tirai malam yang kelam
Ayam-ayam diluar sana tak lagi berkokok
Anjing-anjing liar yang birahi diluar
Namun hatiku tetap saja seperti terbelah golok.
Andai saja aku dapat berteriak....
Andai saja aku dapat berlari....
Pasti hidupku tak dipenuhi dengan keraguan
Aku bukanlah malaikat yang bersayap dan memiliki wajah yang rupawan
Aku hanyalah malaikat yang tak bersayap dan tak memiliki wajah yang rupawan
Mungkinkah aku ini t’lah menjadi gila?
Mungkinkah aku ini tak lagi normal?
Aku tak tahu dengan semua ini
Kar’na semua dalam keraguan alam.[*]
[*] Puisi ini adalah salah satu dari sekian banyak masalah yang sedang aku hadapi, baik berupa celaan, kontroversi dari orang tua hingga anggapan orang tua terhadap keberadaanku. Ini juga sebagai media untuk dapat meluapkan kekesalanku.
21 Januari 2009
Januari yang Kelabu
Di puncaknya musim penghujan ini
terasa basah dan menyakitkan
kau hadir menghantar berjuta kesedihan bagiku.
Kasih kau beri sumbatan untuk nafasku
kau menambah kelabu jiwaku.
Tatkala hujan mengusik impian,
impian semuku....
Kau pergi dibatas kerinduanku.
Kasih kau gores lara hatiku,
kau rusak harapan-harapan dalam diriku.
Januari yang kelabu,
hanya menjadi milikku.
Ketika rembulan tertutup oleh gelapnya malam
diantara sunyinya malam yang kelam,
kau menangkap sebersit isyarat di mata hatiku.
Kasih kau t'lah menutup sanubariku.
Kau bawa diriku berlari dalam amarahmu.
Yang menyakitkan hatiku.
Bagian yang Hilang dari Hidupku
Waktu terus berlalu seiring langkahku
Yang terung ku coba 'tuk lewati hari demi hari
Kadang....,
Kadang ku tak mengerti
semua yang terjadi
Semua saling merindu
tapi saling melupa jua
Tak pernah ku rasa lagi,
hangat peluknya di sini.
Tak pernah ku dapat lagi,
belaian kasihnya di sini.
Waktu terus berlalu membawa diriku,
dalam suka,
dalam duka.
Bahkan hingga aku menangis dan tertawa.
Tak pernah ku dengar lagi,
suara tawanya di sini.
Tak pernah ku lihat lagi,
senyum kecilnya disini
Ku ingin tertawa terus bernyanyi dan menari,
riang gembira.
Apakah.......
apakah ini pernah kurasakan?
S'mua tak ada....
tak ada yang abadi.
Yang t'lah pergi tak'kan kembali
dan bagiku....
Yang hilang akan tetap hilang
hingga semuanya sirna.
19 Januari 2009
Salam Perpisahan
Ditulis Oleh Dian T Indrawan[*] pada Minggu, 21 Desember 2008. Dibacakan Oleh Kaspul Hadi[†] pada Senin, 22 Desember 2008, pukul 20.30 WIB, di Masjid Baiturrahman, Tundan.
Nama-nama yang terhormat yang ku bingkai, 
s’makin menempat rapi di hati
Wujudnya tenang,
tampak begitu gemilang
Bapak, ibu, saudara yang kami hormati.
Dengan tidak mengurangi rasa hormat,
izinkan kami bicara ‘tuk menyampaikan kabar yang telah nyata
yaitu sejak pukul enam tadi, alam ini sudah berubah menjadi lagu perpisahan
sampai sekarang dia sudah bisa memasuki arena ini
bahkan dia t’lah sepakat mewarnai suasana disekeliling kita ini.
Bisakah semua ini berganti dengan keadaan lain?
Semuanya tak ada yang bisa menjawab!
Sebab kenyataanya sudah menjadi hampa,
bahkan keadaan ini sudah bisa menghempaskan kami
‘tuk tidak bisa berbuat apa-apa.
Ternyata s’karang kami hanya bisa menempati ruang-ruang kosong dalam hidup ini
Bapak, ibu, saudara yang kami cintai.
Dalam perpisahan ini kami hanya bisa menjadi s’kelompok kecil,
dari manusia-manusia yang paling bersedih.
Bersedih, karena ketololan-ketololan kami selama tinggal di dusun Tundan.
Bersedih, karena memang kami manusia-manusia yang tak tau diri.
Baru kami sadari, warga dusun Tundan dapat merubah s’gala keadaan.
Bila ternyata kami tidak tau, warga mendidiknya menjadi tau.
Bila ternyata kami lemah, warga merubahnya menjadi kuat.
Dan bila ternyata kami keliru, warga merubahnya menjadi mengerti.
Kesedihan ini sudah nampak lebih sempurna.
Kar’na memang mungkin sesaat lagi kami akan pulang.
Hanya kepada Allah kami serahkan semua ini
Mudah-mudahan bimbingan dan budi baik warga Tundan terhadap kami bisa ditulis menjadi amal sholeh. Amin..
Bapak, ibu, saudara yang kami cintai.
Izinkan kami pulang........
Selanjutnya dari sekian banyaknya kesalahan dan dosa-dosa kami terhadap warga Tundan, dengan segala rendah hati, kami meminta maaf dan sejuta ampunan. ‘Tuk ketentraman dan langkah kami berikutnya.
Kami tak ingin mendengar,
ada yang berusaha memisahkan hati dan diri dari tempat ini.
Gemuruh suara dan hati kami berdo’a,
s’moga warga dusun Tundan yang kami cintai ini,
s’nantiasa berada dalam rahmat dan karunia serta perlindungan Allah.
Dan dusun Tundan yang kita cintai selamanya
Terbebas, terhindar dari segala ancaman dan mara bahaya yang akan menimpanya
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.....
Tak ada yang besar melebihi kebesaran-Nya
Tak ada yang kuat melebihi kekekuatan-Nya
Bapak, ibu, saudara warga Tundan,
KAMI PULANG !!!!!!
[*] Penulis Novel “Jangan Panggil Aku Gay (2004), Isyarat Cinta(2006), Lembayung Syurga(2006), Das is Schön(2007), Management of Love(2007), Public Relation for Hotel Industry(2008)”, Skenario Film “The Root (Dendam yang Tak Terbalas / 2007)”, Skenario Iklan “The Coffee Shop” (2008).
[†] Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta angkatan 2005. Membacakan puisi karya Dian T Indrawan saat perpisahan dengan warga Tundan, Ds. Ngrame. Bantul.
12 Januari 2009
KISAH MENJELANG SENJA
by. Dian T Indrawan
Tik...tak...tik...tak...
Terdengar bunyi suara jam. Aku bersujud menyembah langit
tertanda hari t’lah senja,
matahari tiada lagi bernyawa
saat aku bertamu ke pondok kecilmu
kau suguhkan secangkir emosi lewat mimik wajah
yang tertera lewat monitor di sebelah laptop yang menjanda
kenapa . . .?
Padahal aku datang bersama bingkisan cerita
yang kubungkus dalam pita berhiaskan bunga
tapi kenapa . . .?
Engkau mengiraku datang bersama kenangan lama
bergoreskan duka hati yang menyayat batin cinta
ingatkah kau . . .?
Ketika aku melukismu di kanvas hingga kau dan aku tertawa terbahak
bahkan engkau sampai tersenyum malu
tatkala aku melantunkan
ayat-ayat cinta dengan kesungguhan hati
tik...tak...tik...tak...
Terdengar bunyi suara jam bersujud menyembah langit
apakah engkau masih mengira
aku datang bersama bingkisan kenangan lama
bergoreskan duka durjana yang menyayat batin cinta?
