15 September 2014
LADRANG AYUN-AYUN Pelog/Slendro 6
02 September 2014
5 Hal yang Anda Perlu Tahu tentang Penyakit ALS
26 Agustus 2014
TIPS 5 CARA MENGUSIR NYAMUK
Berikut 5 tips cara mengusir nyamuk :
APA YANG MENYEBABKAN NYAMUK SUKA WARNA GELAP?
26 Juli 2014
23 Juli 2014
10 Cara Untuk Menjalani Hidup Dengan Sebaik-baiknya
30 Juni 2014
20 Juni 2014
KAMUS BAHASA BANCI
10 Juni 2014
Red Wine Bisa Tingkatkan Memori
20 April 2014
Mengubah Kebiasaan-Kebiasaan Buruk Keuangan
Cara Mengatur Keuangan untuk Remaja
Sepuluh Cara Hemat Belanja Bulanan
19 April 2014
01 Mei 2009
Mengungkap Ketidakadilan Gender Kaum LGBT
By Dian T Indrawan
Dewasa ini masih banyak terjadi ketidakadilan gender di Indonesia. Tak hanya perempuan heteroseksual saja yang menjadi korban dari ketidakadilan gender ini, tetapi kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) juga terkena imbasnya. Sebagai contoh yang lebih konkrit adanya garukan teman-teman transgender (waria)[1] yang sedang mangkal untuk mendapatkan rezeki di tempat-tempat tertentu dengan alasan yang tidak jelas. Pernah saya bertanya kepada salah seorang anggota aparat yang sering bertugas untuk melakukan garukan tersebut. Sebut saja dia bernama Ruslan (bukan nama sebenarnya), dia merupakan salah seorang anggota intel di POLDA Sumatra Utara. Dia mengatakan bahwa dia tidak mengetahui secara pasti apa alasan yang real untuk melakukan garukan tersebut. Hal ini menjadi dilema tersendiri bagi teman-teman waria. Selain dari itu, ketidakadilan akan profesi dari teman-teman waria namun berlaku untuk semua kalangan LGBT adalah ketidakadilan hak-hak seksual dan reproduksi. Seksualitas yang dimaksud disini memiliki makna yang luas yaitu sebuah aspek kehidupan menyeluruh meliputi konsep tentang seks (jenis kelamin), gender, orientasi seksual dan identitas gender, identitas seksual, erotism, kesenangan, keintiman dan reproduksi. Seksualitas dialami dan diekspresikan dalam pikiran, fantasi, hasrat, kepercayaan/nilai-nilai, tingkah laku, kebiasaan, peran dan hubungan[2].
Dari pendapat diatas terbentuk dua pemikiran yang berbeda dari faham yang berbeda pula. Kedua pandangan itu yang pertama adalah pandangan esensialisme yang menyatakan bahwa orientasi seksual hanya heteroseksual, identitas seksual sesuatu hal yang terberi dan sifat seksualitas seseorang hanya terdiri dari 2 jenis yaitu laki-laki (maskulin) dan perempuan bersifat feminin. Jika dilihat dari segi esensialisme inilah menyebabkan kalangan yang berada diluar mainstream ini disebut kelompok yang tidak normal. Sedangkan pendapat yang kedua adalah pandangan contructionism yang memiliki pandangan bahwa bukan hanya gender, namun juga jenis kelamin, orientasi seksual maupun identitas gender adalah hasil konstruksi sosial. Sebagai sebuah konstruksi sosial, seksualitas bersifat cair, dan merupakan suatu kontinum sehingga jenis kelamin tidak hanya terdiri dari laki-laki dan perempuan namun juga intersex dan transgender/transeksual, orientasi seksual tidak hanya heteroseksual namun juga homoseksual dan biseksual.
Terlepas dari kedua pandangan diatas terdapat juga ketidak adilan gender yang berupa stigma-stigma yang ada di masyarakat masih dianggap sebagai momok tersendiri yang kemudian menjadi sesuatu yang sensitif di lingkungan masyrakat. Padahal dibalik semua itu kaum LGBT banyak yang berprestasi.



