![]() |
| mudik dengan mobil |
![]() |
| mudik dengan motor |
my Diary
Dengan langkah sedikit tegang aku menghampiri Dad dan mengatakan padanya, “Dad ada anak baru disekolahku. Ia berbeda dariku dan tidak begitu pendiam. Tidak, ia sama sekali tidak sama sepertiku, tidak sepertiku. Ia selalu bernyanyi di depan teman-teman dengan gayanya yang lucu dan aneh. Namun ia selalu juara dalam setiap perlombaan. Terkadang ia lupa dimana letak base yang pertama. Dia itu tak sama sepertiku, sama sekali tidak sepertiku. Acapkali ia mengajakku ngobrol, terkadang aku tidak mengerti yang ia bicarakan. Ia sama sekali tak sepertiku. Wajahnya tampan dan tampak berbeda dariku, dia lucu dan satu hal yang aku tahu darinya, ia tak sama seperti aku!”
“Indra, aku ingin kau mengetahui bahwa apabila kau bertemu dengan seseorang yang baru dan berbeda itu mungkin aneh bagimu, tapi semua ini nyata. Tetapi ia tak jauh berbeda denganmu, dari dirimu.” Jawab Dad dengan penuh kebijaksanaan ketika aku curhat tentang aku bertemu Wicaksono beberapa hari yang lalu.
Memang aku akui, aku telah melihat wajahnya, ketika ia kalah dalam sebuah pertandingan, ia sangat kecewa. Dan ketika anak lain menertawainya, kulihat dia sedih sekali. Kupikirkan semua ini tidak begitu berbeda dariku dan itu tidak jauh berbeda dariku. Ketika dia berkata padaku atas perasaannya padaku, aku tahu ia sangat penuh keraguan sama sepertiku. Dan semua yang terdapat pada dirinya tidak jauh berbeda dariku. Ia sangat ramah, dan tak lupa menyapa teman-temannya. Ia selalu membelaiku dan memanggilku. Ia senang berteman dan ikut bermain. Jelas sekali ini tidak jauh berbeda dariku.
Ketika sekolah mengadakan pesta perpisahan, ia dan teman-temannya tersenyum bangga. Dan itu tak berbeda denganku karena aku juga tersenyum bangga bersama teman-temanku.
“Dad, ingat dengan teman baruku? Mm, aku telah merenungkan semua. Ternyata ada yang berbeda… dan ada yang tidak… namun dalam banyak hal, ia sungguh tak berbeda dariku. Ya teman baruku…. Banyak mirip sepertiku.” Kataku kepada Dad.
Untuk menjawab pernyataan Wicaksono, aku tulis surat disebuah program radio swasta dikotaku. “Oh Wicaksono, maafkan aku jika aku tak dapat menerima sebagai seorang yang aku sayangi. Sekali lagi yang dapat ku ucapkan padamu hanyalah kata maaf.”
Malam minggu dikotaku ini sangat ramai, jalanan kota macet dan banyak anak muda menikmati waktu akhir pekannya bersama teman-temannya. Tanpa kecuali diriku, namun aku menikmati malam mingguku tak sama seperti yang lain. Aku datang disebuah warung makan yang gosipnya, warung makan ini adalah warung makan khusus kaum gay. Mengapa demikian? Karena banyak orang yang mengatakan bahwa dari pemilik hingga karyawannya itu semua gay. Akan tetapi itu tidak menyurutkanku untuk melepas waktu akhir pekanku dengan makan ayam goreng disitu.
“Selamat malam! Mau makan apa?” Sapa salah satu pelayan.
“A-A-A ups….. Tempe penyet aja deh, trus minumnya es jeruk ya.” Jawabku tergagap-gagap.
“Pelayan itu keren juga, mirip dengan Samuel Rizal” kataku pada diriku sendiri.
Beberapa menit kemudian, pelayan itu datang membawa perangkat makan (sendok, garpu, piring, dan tempat cuci tangan).
“Baru pertama kali ya, datang kesini?” tanyanya dengan senyumnya yang khas.
“Iya…..”
“Tetapi kok sendirian, tidak sama teman-temanmu?”
“Mmmmm, orang seperti aku mana ada yang mau berteman denganku. Mereka lebih suka menghinaku, mencampakkanku, dan menjauhiku. Dan juga lebih suka berteman dengan orang yang sejalan dengannya.” Jawabku jujur.
“AAN” ujarnya spontan.
“Maksudmu?”
“Iya namaku Aan. Kamu siapa?”
“INDRA” jawabku dengan tersipu malu dan sedikit senyum padanya.
Tetapi dia tidak dapat menemaniku lama karena ia harus kerja. Melayani pelanggan yang lainnya. Sesekali ia melirikkan matanya ke arahku, matanya mulai menggodaku. Namun itu semua kuanggap sebagai angin lalu. Pasalnya, diriku hanya berniat untuk makan. Seusai makan, aku bergegas untuk pulang dan segera membayar makananku yang telah aku makan.
“Kok terburu-buru? Tidak main dulu, toh ini masih sore.” Ujarnya.
“Iya nih mas. Sudah kemalaman, karena aku harus ke internet.” Jelasku singkat.
Kepulan asap rokok menemaniku mencari suatu artikel tentang jati diriku. Serasa tidak dapat kupercayai, bahwa ternyata banyak sekali teman-teman seperjuangan untuk mencari jati diri dan konsep diri, setelah aku membuka beberapa situs. Di dalam beberapa situs hanyalah berisi tentang informasi perkawanan seperti layaknya GAYa Nusantara yang didirikan oleh Dede Oetomo (salah satu tokoh pejuang Gay, red) namun, pada salah satu blog yang aku yakini sebagai salah satu yang menuliskan tentang kehidupan gay yang sesungguhnya. Akan tetapi ada juga yang hanya sekedar foto-foto erotis yang disebarluaskan.
Sebelum mengetahui situs-situs yang berguna, aku lebih suka menyempatkan untuk interaksi melalu chatting dan menonton gambar-gambar yang terbilang vulgar. Kini hidupku semakin terbuka, akan tetapi diriku sendiri masih merasa minder dan takut dengan keluarga yang notabene beragama Islam. Aku menyadari hidup yang seperti ini salah bagi agama yang aku anut, tetapi semuanya mengalir begitu saja seperti air. Tetapi setiap aku melihat tayangan televisi tentang kehidupan kaum gay, aku semakin merasa takut untuk mati maupun hidup. Aku masih merasa minder dengan semua yang ada saat ini.
Tiba-tiba dengan asal mengklik salah satu situs, aku menemukan tempat konsultasi yang tepat. Akupun mendaftar menjadi member disitus tersebut dan mulai berkonsultasi dengan psikolog-psikolog handal. Diriku mulai yakin dalam hidup setelah mendengarkan penjelasan tentang kaum homoseksual dari salah psikolog di website tersebut. Namun terlepas dari itu semua aku sendiri masih merasa takut untuk terbuka dengan kehidupanku yang sebenarnya. Walaupun setiap kali kupukirkan, hanyalah kebosanan yang terdapat dalam diriku kini. Kebosanan atas semua hal baik dari menutupi kepalsuan-kepalsuan dalam diriku hingga hidup yang begitu tidak jelas kemana arah yang harus aku pilih.
Tuhan, tangisan malam yang dingin telah menusuk tulang rusukku. Tetapi sampai saat ini aku masih bimbang dengan kehidupan yang akan datang untuk diriku. Dapatkah aku menjalani semua ini tanpa harus membuka jati diriku sebenarnya. Tuhan, setiap aku melangkahkan kakiku, serasa semua mata tertuju padaku. Setiap aku mengeluarkan suaraku, serasa semua telinga mendengarkanku. Aku merasa ketakutan terhadap kecurigaan semua orang terhadapku tentang siapa diriku yang sesungguhnya.
Berbagai cara telah kucoba, berbagai bukit telah kudaki, hanya ingin menutupi jati diriku yang sebenarnya. Namun kini aku telah lelah, bosan dengan semua kepalsuan yang kuciptakan. Apakah waktu yang kutunggu untuk membuka diri telah datang bagiku? Aku ingin mulai membuka topeng-topeng kepalsuanku yang selalu menutupi siapa aku sebenarnya. Tuhan, mengapa Kau ciptakan aku sebagai seorang laki-laki yang berhati wanita? Pantaskah aku untuk tetap mendapatkan cinta dari-Mu?
Kini liburan sekolah telah tiba, Mom selalu berpesan kepadaku. Namun jika hanya pesan saja itu tak mungkin karena Mom juga menyuruhku.
“Carilah kegiatan saat waktu luang, isilah waktu luang ini dengan kegiatan yang positif.” Jelas Mom padaku.
“Ya, Mom….., aku ngerti. Bolehkah aku mengikuti kelas model lagi? Atau ikut sebuah paduan suara?” tanyaku padanya.
“Boleh asalkan kamu dapat membagi waktumu nanti. Karena di dunia hiburan tak semudah yang kamu bayangkan.” Nasihatnya kepadaku.
Mom akhirnya meninggalkanku dalam sepi karena beliau harus pergi mencari nafkah. Akupun masuk kamarku dan merenungkan semua nasihat Mom. “Mom, telah lama aku terkurung dalam sepi. Telah lama aku berada dalam situasi yang tak pasti. Inilah yang membuatku menjadi rapuh dan layu. Seolah-olah diriku ini menjadi mati. Tetapi aku akan terus berusaha ‘tuk bertahan. Inilah yang membuatku tak mudah rapuh seperti yang kau bayangkan. Apakah persetujuan darimu ini seratus persen setuju ataukah hanya setengah-setengah?
Mom, aku ingin berunjuk diri. Aku ingin mencoba mengekspresikan diriku dengan pasti. Mencoba untuk bersikap teguh dan kukuh. Aku ingin sekali membuka jati diriku yang sebenarnya. Entah apa yang membuatku tak bisa ataupun tak mampu. Aku ingin sekali menunjukkan bahwa aku ini mampu untuk eksistensi diriku tanpa ragu. Ragu dari tekanan-tekanan keluarga, teman-teman dan masyarakat. Mom, aku hanya bisa berkata: Inilah aku apa adanya. Seorang lelaki pecinta lelaki.” Renunganku dipagi hari yang dingin dengan tetesan embun dari Sang Yang Teragung.
Aku merasa dilema dengan keberadaanku ini, aku hidup diatas dua kehidupan antara dunia homoseksual dan heteroseksual. Tetapi aku yakin bahwa Tuhan tak mungkin mengkodratkanku seperti ini. Aku bukan banci, aku hanya gay.
Hari mulai beranjak siang yang panas menyengat kotaku yang berhati nyaman ini. Kukendarai motor dengan mencari informasi beberapa tempat kelas menari dan fashion. Akhirnya aku tiba disebuah studio tari dari salah satu penari Indonesia di kotaku ini. Dan akupun mulai mencari info bagaimana caranya untuk dapat bergabung disanggar yang terletak di jalan Godean, mereka pun menyabut kehadiranku dengan ramah walaupun aku hanya sekedar bertanya tentang cara bergabung dengan mereka. Menit berbagai menit kujelajahi untuk mendapatkan info disanggar tersebut. Setelah mereka menjawab semua pertanyaanku, kulanjutkan perjalananku untuk mencari info kelas fashion yang kudambakan sejak lama. Tak lama kemudian ada sebuah agency model tempat bernaungnya para fashion designer ternama dikotaku.
“Selamat siang…..
“Siang…., begini mbak saya ingin bertanya tentang kelas fashion design disini. Persyaratannya apa saja terus berapa biaya pendaftarana dan bulannya?” ucapku.
“Persyaratannya hanya membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 50.0000, biaya pendidikan sebesar Rp 3.950.000 sudah termasuk wisuda dan dapat diangsur empat kali. Atau mas mau bayar lunas juga bisa.” Jelasnya singkat kepadaku dengan sedikit candaannya.
“Mmmmmm…., ya sudah nanti saya datang kesini lagi. Karena harus rembukan dengan orang tua dulu. Terima kasih ya mbak, atas penjelasan singkatnya. Selamat siang!” jawabku.
Mungkinkah Dad dan Mom menyetujui semuanya? Entahlah, yang penting saat ini aku niat dalam menjalaninya. Seandainya Dad tidak menyetujui, aku yakin pasti Mom dapat menyetujui pilihanku. Walau semuanya sedikit ragu untuk menjalaninya.
“Ndra, apa kamu tak merasa risih dikeliling banci-banci disana?” Tanya Dad kepadaku.
“Mengapa harus risih, aku bukanlah homopobia. Selama mereka tidak mengganggu, aku akan baik-baik saja….”
“Apa tidak sebaiknya kamu kursus komputer saja?”
“Dad, jangan paksa aku untuk kursus komputer. Aku dari dulu tidak menyukai bidang itu.” Ungkapku untuk membantah pendapat Dad.
“Terserah kamu, tapi aku sebagai orang tuamu hanya bisa berkata “TIDAK”. Ya kalau itu sudah menjadi langkah jalanmu untuk menjadi “BANCI”.
“Banci! Tidak semua pria yang bekerja di dunia fashion dan model itu banci. Mungkin Dad tak tahu, Angakatan Berseragam pun ada yang pagi kerja malam dandan (berubah menjadi banci, red), dokter rumah sakit pun juga ada kalau tidak praktek, mereka ada juga yang praktek dengan pria. Apakah mereka juga bukan BANCI?”
“Indra, Banci itu tidak NORMAL!”
“Kalau Dad tahu, apa itu normal? Mengapa ada yang disebut dengan tidak normal? Apakah Dad mengetahui banyak orang yang merasa normal, padahal mereka tak tahu apa batasan normal dengan tidak normal. Apa Dad hanya mengetahui normal hanya sebatas dapat dinilai sebagai realitas? Realitas seperti apa Dad?”
“Sudahlah, Dad sudah lelah menasihatimu. Pilihlah jalan yang terbaik menurutmu.” Ungkapnya sambil berpikir untuk mengakhiri pertikaian kami.
Siapa mereka ini anakku? Apakah yang membuat kami tak percaya? Anakku, siapa mereka ini yang selalu menghampirimu? Tatkala semua sangsi, tatkala semua dukungan ditarik pergi? Dad, merekalah sang juara. Karena mereka pantang menyerah untuk mencapai satu tujuan. Yang terdapat pada mereka hanya satu yakni, tekad untuk diakui. Mereka ikuti dorongan mimpi walau jalan nun jauh disana. Dari puncak gunung mereka tetap yakin, dapat meraih bintang. Dan ketika menyentuhnya, ketika tiba pada akhirnya…..
Ada harapan bagi aku dari kejayaan yang mereka raih. Maka, inilah sang juara… Dalam semua perbuatan besar yang setiap mereka lakukan. Hanya hati yang mereka turut dan oleh sebab itu mereka dapat meraihnya.
Satu purnama telah kulalui dengan hati yang suram, penuh dengan lika-liku dan hambatan. Kini saatnya aku meninggalkan purnama yang lampau, aku ingin hidupku lebih baik dari yang kemarin atau yang telah usang. Sore ini aku bergegas mempersiapkan untuk pagelaran busana pertamaku bersama teman-teman agency-ku.
“Del, kenapa kemarin kamu tak datang saat fitting baju?” tanyaku pada Adel.
“Gini Ndra, kemarin aku ada eksul sampai sore. Tapi kamu kemarin sudah bilang dengan mas Afif….” Jawabnya.
“Ya sudah dong, Del. Omong-omong Ari, Anang, Yeni, dan Yati mana kok mereka belum kelihatan?”
“Indra yang baik…., mereka baru pada jemput Keke dan Novi. Tapi kenapa model cowok hanya sedikit ya…..?” Tanya Adel balik.
“Kalu si Doni dia kesininya setelah fitness, si Banyu dan Lanang mereka tadi sms, kalau mereka berdua ke salon dulu untuk perawatan. Toh nanti kita tampil jam 9 malam!” jawabku santai.
“Gilingan (gila, red) juga mereka ya, sempat-sempatnya fitness dan pergi perawatan ke salon.” Sahut mas Afif menyambung pembicaraanku dengan Adel.
Menit ke menit aku lalui sembari memulas wajah dengan beberapa make-up dengan sedikit candaan Adel dan mas Afif. Tak lama kemudian datanglah Ari, Anang, Yeni dan Yati bersama Keke dan
“Ndra, sudah tancap juga ya…..” ungkap Yati.
“Indra…… dia tak mungkin telat kalau disuruh make-up…..” sahut Keke, Yeni dan
Malam yang dingin mulai menghembuskan angin malam yang jahat, sekelompok kelelawar pun bertebaran untuk mencari makan demi kelangusngan hidupnya. Ini adalah malam yang sangat menegangkan bagiku karena inilah malam tahun baru yang sangat menggembirakan serta sedikit menegangkan. Malam ini adalah malam pertama kali aku mengenal dunia hiburan yang sesungguhnya. Seolah aku tak memiliki beban apapun. Bersama teman-teman, kami berangkat dari studio menuju tempat show kami. Oh Tuhan, akhirnya aku dapat menghela nafas dengan lega walaupun hanya sementara saja.
Jam tanganku telah menunjukkan bahwa kini sudah tepat pukul 22.30, artinya kelompok kami sebentar lagi harus benar-benar mempersiapkan diri untuk memperagakan busana rancangan seorang prancang ternama di kotaku.
Satu jam telah berlalu, ketegangan mulai mengendur, renunganku pun mulai datang menghampiriku. “Kalau saja tak ada teman-teman disini, mungkin acara ini sudah bubar sejak awal. Terima kasih Tuhan, sebenarnya aku sangat menginginkan dapat terjun langsung ke dunia hiburan lagi setelah sekian lama bersembunyi dari kepenatan dunia hiburan.” Kataku dalam hati.
Sebagai pimpinan acara, Mas Afif pun mendekatiku dan memecahkan lamunanku dimalam yang bising suara terompet. “Indra, tak ada sesuatu pun yang dapat kau cari di dunia hiburan yang serba glamour ini. Semua ini hanyalah permainan dan permanian. Selebihnya kau hanya akan menyesal karena ditinggal oleh waktu dan kau akan merasa kelelahan dengan semua ini.” Ungkapnya dengan bijak.
“Tapi Mas, aku ingin sekali mematangkan karirku. Aku ingin sekali menjalaninya dengan optimal.”
“Indra, dulu kamu pernah belajar dari buku dan sekolah. Tetapi dalam kenyataannya, kamu lebih memilih dunia modeling yang lebih menggairahkan. Bukannya mas Afif ingin mencampuri urusanmu dan menghalangi usahamu dalam karir, hanya saja sebelum usiamu kadaluarsa, sebaiknya kau mencari pekerjaan yang lain sesuai bidang sekolahmu.”
“Iya juga sih mas, orang tua juga kurang setuju kalau aku harus terjun terlalu dalam didunia hiburan. Tetapi ketika mereka aku tanya tentang alasan mereka, hanya sesuatu yang tidak masuk akallah yang keluar dari mulut mereka. Dad dan Mom lebih suka mendiskriminasikanku. Seolah aku ini adalah sekedar sampah dalam kelurga. Dad dan Mom juga memaksaku untuk dapat bekerja sebagai pengabdi pemerintah.” Jawabku dengan sedikit ragu walau hidupku memang dipenuhi dengan hal yang meragukan.
“Indra, kamu sudah lulus sekolah?”
“Belum mas, aku masih kelas tiga SMA. Lagi pula, bukankah menjadi seorang fashion designer dan model itu juga bekerja?”
“Bekerja? Memang jika kamu menjadi perancang busana disana kamu akan mendapatkan sesuatu hal yang pasti. Tetapi menjadi seorang model, bukanlah pilihan yang tepat karena di dunia modeling tak ada masa depan. Ingat dan camkan omongan mas Afif, memelihara sebuah karir lebih susah dari pada memlihara seribu domba!”
“Tapi sanggar ini tetap beroperasi? Lagi pula Indra hanya ingin mematangkan dan lebih optimal dalam mengerjakan sesuatu hal. Indra tak ingin bekerja seperti biasanya yang terkenal hanya setengah-setengah dan tidak pernah tuntas.” Sahut Adel yang ternyata sudah lama mendengar pembicaraan kami.
“Indra, pepatah mengatakan bahwa orang yang membagi cinta bak sungai yang bercabang dua. Menjalani dua pekerjaan yang berbeda akan membawa kedangkalan dan kekhawatiran.” Ujar mas Afif.
Namun pepatah itu hanya sebuah kiasan belaka yang berupa syair. Di dunia model ini aku hanya ingin mematangkan tubuh dan jiwa. Agar keduanya kenyang bermain-main hingga tiba masanya untuk memilih. Memilih antara dua pilihan, apakah itu cinta ataukah kewajiban. Terima kasih ya mas Afif dan kau Adel, kalian berdua telah bersedia mendengarkan uneg-unegku.
Pesta kembang api di kota pelajar ini telah dimulai dengan seru. Akan tetapi perasaanku tak sebaik tutup tahun ini. Sering sekali aku mengibaskan kenangan masa lalu yang terlalu dinilai inosen namun benar-benar dramatis. Cinta yang suci dan sangat sakral memang tidak dapat memilih, akan tetapi kehidupan diluar sana hanyalah keegoisanlah yang dapat memilih dengan mudah.
Saat Anton (seseorang berkewarganegaraan Belanda yang pernah mengisi indahnya hidup Indra selama hampir 5 tahun, red) kembali datang ke dalam hidupku, aku mulai bertanya-tanya dimana sosok Sulis kini? Sudah lama masa manis denganya berlalu? Dan masihkah ia di atas panggung sandiwara kehidupan? Memang hidupku semacam drama yang acap kali dimainkan oleh setiap insan, akan tetapi perilaku seksualku yang tidak mungkin semuanya dapat menerima dan dapat menjalaninya. Aku kembali ditakuti dengan apa yang telah terjadi. Aku sendiri merasa bahwa “Dia” telah melupakan pentas karena jalan hidupnya telah berubah 360 derajat. Hidupku kini merasa hampa walau saja aku telah mendapat pengganti Sulis akan tetapi kehidupanku dengan Anthon sangatlah berbeda, apa lagi hidup ini tanpa ada motivasi dari diriku.
Apakah aku yang terlalu cepat melupakan Sulis sehingga aku lupa terhadap pengorbananku selama ini? Dalam setiap mimpi-mimpi indahku, ku s’lalu didatangi oleh suara hatiku yang selalu berkata jujur. Dan ia berkata, “Indra, sesungguhnya cinta itu tak pernah ada dalam keindahan tubuhmu kecuali cinta itu sendiri yang menyusun tubuhmu diantara jantung dan hatimu. Oleh karena itu, biarkanlah rindu tanpa daging dan segumpal darah. Karena itu adalah mahar cintamu, simbah mawar dan kekasih dalam jiwamu yang sebenarnya. Indra, semua ini tak perlu kau ragukan lagi. Percayalah, keraguan yang selalu menghampirimu itu adalah hal yang maya.”
Sudahlah ini adalah jalan yang terbaik untukku. Aku akan menjalaninya dengan kesungguhan hati, walau saja banyak orang yang belum dapat menerima kehadiranku sesungguhnya, tetapi aku tetap mantap dan yakin bahwa kaum gay bukanlah orang yang kelainan jiwanya. Mereka semua normal, hanya saja mereka berbeda orientasi seksualnya. Teman-temanku selalu mengira bahwa aku ini sosok orang yang tak pernah merasakan duka melainkan aku selalu merasakan kebahagiaan. Tetapi sungguh, aku ini sama seperti dengan orang kebanyakan. Pernah merasakan dicintai, dan dibenci. Dan juga pernah merasakan disayangi dan dikhianati. Seandainya saja aku tak pernah merasakan sakit hati dan hanyalah rasa senang, pastilah jiwaku telah rapuh dan aku tak mungkin dapat bertahan. Namun aku dapat tegar dengan semua ini. Hingga akhirnya jiwaku memang terbukti bahwa jiwaku tak mudah rapuh. Dan aku masih mengharap untuk semua, mencari teman itu jangan dilihat dari siapa orang itu tapi lihatlah dia itu dari hatinya. Karena kaum gay tak ingin dipanggil gay.[*]
Waktu lepas waktu dan berganti hari, keadaan seperti ini aku lalui dengan kebahagian namun ternyata duka pun menyelimutiku juga. Kekangan dari Mom dan Dad pun datang menghantam. Oh Tuhanku Yang Maha Kasih, mengapa mereka selalu menyalahkanku? Mengapa semuanya serba salah bagiku, sebagaimana biasanya? Mengapa jalan yang aku tempuh selalu terasa mendaki? Tuhan aku hanya ingin bahagia, tetapi aku kini hanya dapat terpaksa mengeluh. Semuanya terasa sangat membebaniku. Diriku butuh istirahat sejenak dari kepenatan yang terjadi. Tapi mengapa masalah selalu datang menghampiriku?
Aku tahu jika hidup ini tanpa lika-liku dari-Mu, maka akan terasa aneh. Seperti yang terkadang aku alami dan banyak sekali kegagalan yang aku jumpai. Semestinya aku dapat berhasil, Tuhan. Namun ada saja yang menghalangiku untuk keberhasilanku. Aku takkan pernah menyerah walau gerak maju tampak lambat. Siapa tahu berhasil pada usaha berikutnya.
Oh…. Engkau Yang Maha Agung. Bukankah keberhasilan adalah sisi kegagalan? Seperti tinta perak dibalik awan yang penuh dengan keraguan. Dan aku selalu tak pernah mengetahui seberapa dekat tujuanku untuk hidup. Mungkin sudah dekat ketika menurutku terasa jauh. Aku akan tetap berjuang bahkan ketika hantaman semakin keras, ketika segalanya tampak sangat buruk. Aku tetap tak boleh pantang menyerah. Difficulty is loo like baby and the growing big pass mothering only.
Malam berganti siang yang kunanti dengan kerinduan,
Oh…, aku hanya dapat terdiam seribu bahasa, hati ini merasa sakit mendengar semuanya. Apakah semua ini karma dari Tuhan untukku? Memang aku dulu selalu mempermainkan orang hanya untuk memuaskan nafsu bejatku semata tapi aku ingin sekali menjalin hubungan dengan serius. Aku sudah bosan dengan kekecewaan yang ada. Tuhan kuatkanlah aku dengan situasi seperti ini, hidup seperti saat ini mamang berat, aku harus berpura-pura menjadi seorang lelaki sejati didalam anggota keluarga dan dilingkungan sekolah.
Ketika seluruh dunia semakin gelap dan semua mulai tidak begitu jelas, ketika bayang-bayang mulai menggantung. Oh… tenangkanlah aku, Tuhan. Ketika segalanya telah kucoba dan kelihatan tak ada jalan keluar, buatlah aku tetap mengingat-Mu. Terkadang perjalanan ini memang begitu lambat. Aku mungkin hanya perlu berhenti dan istirahat sejenak dari sepanjang jalan yang kutempuh. Saatnya aku mencoba untuk dapat mengerti dan berbincang dengan-Mu. Setelah kudapat kekuatan baru untuk melanjutkan semua, tanpa rasa ragu atau pun rasa takut. Bagaimanapun aku harus mengetahui semua karena masalah akan cepat beres. Maka, tabahkanlah aku.
Bulan telah berganti matahari, bayangan wajah Anton mulai memudar dan perasaan rindu pun berangsur-angsur hilang tetapi yang terlintas kepikiranku adalah adik kelasku yang selalu memperhatikanku. Saat setelah istirahat pertama ataupun saat istirahat sholat dhuhur bersama. Apakah aku ini hanya kege-eran saja? Tapi tidak semua itu mengalir seperti air. Akupun mulai berkenalan dengan adik kelasku itu karena terkena bujuk rayu sahabatku Frans.
“Ndra, ada yang mau ketemu.”
“Siapa? Jangan bilang kalau adik kelas lagi ya…”
“Ye….Ya… Iya, adik kelas kita. Dia anak kelas 2B.” Jawabnya dengan sedikit cengengesan.
“Oh………..” sahutku dingin.
“Tet……..Tet……..Tet……..,”
Ternyata jam istirahat telah usai. Aku dan Frans pun masuk kelas dengan segera dan mengikuti pelajaran hingga selesai.
“Frans, kamu sudah belajar untuk ulangan harian nanti?” Tanya Arif teman yang berada dibelakangku.
“Hehehehe, ya belom. Indra itu yang sudah belajar.” Jawabnya yang selalu dengan senda gurau.
“Wah…., emang nanti ada ulangan harian apaan?” Tanyaku.
“Bukannya nanti ada ulangan Antropologi?” sahut Kewin teman sebangku Arif.
“Yang bener…., gila kamu! Tidak kasih tahu aku kemarin.” Sahutku.
“Kamu kemarinkan berangkat sekolah, aku yang bolos sekolah tahu kalau hari ini ada ulangan harian Antropologi.” Jelas Kewin kepadaku.
“Maaf deh….., mungkin kemarin aku ngelamun saat Bu Hamda memberi tahu ke teman-teman.” Terangku kepada mereka berempat.
“Begini saja, Ndra. Gimana kalau kita berempat mencontek? Nanti contekkannya ditulis di meja nanti kalau ada yang tahu di nomor berapa…. Langsung deh kasih tahu….” Jelas Frans tentang ide gilanya untuk mencontek.
“Selamat siang anak-anak……!” Sapa Bu Hamda guru mata pelajaran Antropologi.
“Sudah belajar? Kalau belum ibu beri waktu tiga puluh menit untuk belajar.” Ujar Bu Hamda kepada kami.
Menurutku (dalam hati), semua catatan yang diberikan Bu Hamda itu hanyalah sebatas menyalin buku panduan karena menurutnya semua kata-kata di dalam buku panduan itu penting. Mengapa harus ada catatan jika semua kata-kata itu benar dan mengapa harus ditulis lagi? Apakah ini tidak membuang-buang waktu saja?
“Ya! Semua buku catatan dimasukkan dan keluarkan kertas untuk ulangan.” Gertaknya pada kami.
Kukerjakan soal darinya satu persatu, walaupun soalnya terbilang mudah tapi ketiga temanku tetap saja nyontek. Akhirnya waktu ulangan harian pun selesai, semua soal-soal darinya telah aku kerjakan semua dan waktu istirahat solat dhuhur pun datang.
“Ayo Frans, buruan. Kita langsung ke masjid saja!” ajakku kepadaku.
“Ya udah kamu duluan, nanti aku nyusul.” Jawabnya dengan lugu.
“Hi Ndra! Kamu tidak kemasjid?” Sapa Riyan salah satu terman karibku sejak SMP.
“Ke masjid dong….! Ya udah kita berangkat bareng aja yuk. Tapi Frans masih dikelas. Apa perlu kita tunggu?” Jelasku.
“Mmmmm, nah itu Frans sudah keluar dari kelas.” Ujarnya.
“Kalian nunggu aku ya….., wah… aku jadi terharu.” Ungkap Frans dengan candaannya yang aneh.
“Ah, itu hanya perasaanmu saja….!” Teriakku bersama Riyan serempak.
Kami bertiga berjalan dengan santai ke masjid dengan tidak terburu-buru. Setelah sampai di masjid, kami betiga duduk di serambi masjid dan sedikit nyeloteh ringan sembari bersiap diri.
“Yan, ngambil air wudlu yuk!” ajakku segera.
“Frans, buruan nanti keburu iqomah lho!” sahut Riyan untuk mengajak Frans mengambil air wudlu segera.
“Ndra, kok sepertinya ada yang memperhatikanmu?!” jelas Frans.
“Ah… sudahlah. Itu hanyalah perasaanmu saja.”
Kami bertiga menuju tempat wudlu dan kemudian kami sholat berjamaah. Namun aku juga merasa bahwa gerak gerikku itu diperhatikan oleh seseorang, namun aku sendiri tak ingin berprasangka buruk kepada orang lain.
“Ndra, mengapa anak kelas 2 itu selalu saja, memperhatikanmu? Apa yang mereka cari darimu?” Tanya Frans kepadaku sembari berdiri di balkon sekolah yang berhadapan dengan balkon kelas 2 B.
“Entahlah, itu hak mereka memperhatikanku. Aku tidak perduli dengan urusan mereka.” Jawabku dengan perasaan sedikit gundah karena teringat perkataan sahabat Anton kepadaku sembari memperhatikan ruang kelas 1 G.
Aku tak tahu entah apa yang mereka bicarakan, namun aku mengetahui semua yang mereka bicarakan. Ya… tak lain mereka membicarakanku. Memang kaum gay di negara ini masih menjadi kontroversi dan oleh lingkungan masyarakat banyak sekali yang mengucilkan kaum ini. Masyarakat banyak yang mencaci dan berpikir bahwa kaum homoseksual itu tak memiliki masa depan yang jelas. Tapi aku membantah semua itu. Kaum gay memiliki masa depan dan kaum gay seperti aku tidak semuanya menjadi sampah masyarakat yang hina. Suara bel masuk kelas sudah terdengar dan kami pun masuk kelas masing-masing.
“Ndra, kok kamu tumben tidak menanggapi semua omongan anak-anak kelas 2B?” Tanya Frans di kelas dengan sedikit khawatir kepadaku.
“Mmmmm, tidak apalah…., memang saat ini aku sedang bad mood untuk menanggapi semua perkataan mereka. Aku hanya sedang memikirkan bagaimana caranya biar mereka itu tak pernah lagi meremehkanku itu saja.” Jelasku dengan penuh ketegaran.
“Frans kenapa tu Indra, kok murung?” Tanya Kewin sembari memperhatikanku.
“Wah…., entah kenapa dia jadi aneh hari ini. Apa dia kesambet ya?” sahut Arif membuka candaannya.
“Hahahahahaha….., kesambet apaan? Gila kalian semua.”
“Nah…., gitu dong Ndra! Akhirnya kamu bisa tertawa juga.” Terang Arif.
Beberapa saat kemudian ada pengumuman dari guru piket bahwa guru pengampu akuntansi berhalangan hadir jadi kami pun diberi tugas untuk mengerjakan lembar kerja siswa yang dibuat oleh pihak guru pengampu.
“
“Mmmmmm, jarang. Emang kenapa?”
“Tidak. Aku hanya heran dan penasaran denganmu. Kamu gay? Atau kamu hanya sekedar pecinta waria saja?”
“Kamu salah. Aku ini heteroseksual. Welly aja yang suka ngaku-ngaku kalau dia itu pacarku.” Terangnya.
“Oh…. Tapi mengapa Welly kemarin menjemputmu?” sahut Kewin yang juga penasaran terhadap Arif.
“Oh… itu….. aku saja juga kaget saat…..”
“Udahlah… akui saja, kalau kamu itu homo.” Sela Kewin untuk menggoda Arif.
“Anjrit, tak mungkin aku jadi homo.” Sahut Arif dengan muka yang memerah seperti kepiting rebus.
“Hei, kalian itu kayak anak kecil saja. Yang penting sekarang ini, kita mengerjakan tugas akuntansi ini…. Keburu bel pulang!! Dari pada dibawa pulang mendingan dikerjakan disini dan selesai. Jadi, dirumah tidak ada beban lagi. Nih, kalian bisa mencontek pekerjaanku. Aku sudah kelar dari pertemuan kemarin dan sudah ditandatangani oleh guru pengampu kita.” Ujarku kepada mereka agar segera mengerjakan tugas dengan baik.
“Nah…, gitu dong….!” Sahut Frans, Kewin dan Arif serempak.
“Tapi cepetan, nanti tidak selesai kalau kebanyakan ngobrol……”
“Oke deh….. babe!” Sahut Arif.
Tet……. Tet….. Tettttt……., bunyi bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Aku pun segera membereskan buku-buku pelajaranku untuk dibawa pulang. Ternyata Riyan sudah menunggu didepan kelasku.
“Frans aku pulang duluan ya, aku bareng Riyan.” Pamitku.
Kumelangkah maju menuju tempat parkir dengan Riyan yang terletak di sebelah belakang sekolah. Sepanjang perjalanan pulang, aku selalu berkata dalam hati untuk diriku sendiri tentang apapun yang kuperbuat. “Aku sebenarnya sangat membutuhkan pembicaraan serius tentang jati diriku ini. Tetapi bukan dengan Riyan atau teman-temanku yang lain. Akan tetapi aku harus berkonsultasi dengan psikiater, yang dapat dipercaya. Aku ingin semua tahu bahwa aku itu normal. Dan mengapa semuanya bilang bahwa kaum gay itu tidak normal terus yang normal itu seperti apa? Kebanyakan orang selalu melecehkan kaum gay seperti aku. Mereka memberi anggapan yang salah tentang kaum gay. Mereka semua beranggapan bahwa kaum homoseksual itu tidak memiliki masa depan yang jelas.”
“Ndra…., Hei…. Ngalamun aja dari tadi diajak ngobrol tidak menjawab ternyata kamu melamun……” semprot Riyan kepadaku.
“Hehehe….. maaf….., aku baru banyak pikiran…….. Yan aku langsung balik ya….”
“Oke!” jawab Riyan.
“Kehidupan hari ini mungkin sama buruknya dengan hari kemarin, tetapi aku harus berani menerjangnya. Harus! Tetapi hari-hari yang seperti ini selalu berlanjut dikehidupanku dan kekurangan jiwa yang aku miliki semakin memburuk. Aku tak tahu apa yang salah, tapi aku merasa bahwa aku berada di suatu jalan buntu. Siapa yang dapat menolongku? Untuk apa aku minta tolong pada orang lain? Dapatkah aku menjalankan semua isi hatiku? Mungkin aku bisa untuk saat ini.” Kataku untuk diriku sendiri didalam hati.
Tiba-tiba terdengar bisikan misterius ditelingaku. Bisikan itu memerintahkanku untuk membaca isi surat dari Mom. “Bacalah Dengan Cermat.” Aku memandangi ketiga kata yang tertulis di surat Mom. Untuk apa? Mengapa ia tak memperbolehkan aku mendengarkan musik di malam hari, merokok ataupun berinteraksi dengan orang lain melalui internet? Apakah aku harus membaca dengan cermat hal-hal seperti ini?” kataku dalam hati.
Namun, tiba-tiba aku tersadar, pasti ada bunyi yang lain di balik heningnya malam yang tertiup angin dan bisikan udara malam yang bergesekan dengan pepohonan di luar sana. Di dalam surat ini aku menemukan sesuatu, kalau kita membaca dengan sungguh-sungguh, ada sesuatu yang sangat singkat ketika segala sesuatu itu diam dan menunggu. Di keheningan malam yang singkat ini, pikiran yang berkecamuk terhenti dan seolah beristirahat sejenak. Kendati pun demikian, angin telah mengusir gumpalan-gumpalan awan dari langit dan bintang-bintang yang memperlihatkan gemerlapnya yang tajam, mengkilap dan meriah. Aku mulai membaca pesan kedua, dan sekali lagi aku termenung, setengah bingung bahkan setengah putus asa. Ada beberapa kata yang ditulis Mom dengan jelas. “Cobalah Kau Menjangkau Kebelakang.”
“Ke belakang mana? Ke masa lampau? Tetapi untuk apa?”
Sementara semua khawatirkanku yang berhubungan dengan masa depan atau masa mendatang. Aku akhirnya memutuskan untuk menegaskan kesan-kesan yang samar ini seperti seorang pelukis yang memberikan sentuhan baru untuk memperkuat gambar sebuah lukisan yang ia lukis. Orang bahagia adalah orang yang penuh keyakinan menjalani hidupnya dengan penuh percaya diri (Gordon Arthur. 1995:292). Akan tetapi kali ini empat kata yang ditulis oleh Mom bukanlah imbauan lembut. Melainkan sebuah perintah. “Periksa Kembali Motif Jalan Hidupmu!”
Tak ada yang salah pada motifku. Aku ingin sukses, ingin mendapatkan pengakuan yang setimpal. Tetapi semua orang picik terhadap kehidupanku. Aku ingin merasa bahagia dan lebih merasa aman dari pada sekarang. Mengapa tidak boleh? Apa barang kali, kata sebuah suara kecil entah dimana dalam benakku, mengatakan bahwa motifku ini tidak cukup baik bagiku. Mungkin itu alasannya mengapa roda-roda berhenti berputar. Begitu menyadari kenyataan ini, aku melihat bahwa jika motif hidup kita salah maka, hasilnya tidak mungkin benar. Ternyata lama sekali aku duduk terdiam dibawah gemerlap malam. Langit malam yang senyap menampilkan paduan antara sepi dan rindu dengan penuh keraguan ketika aku membaca kalimat terakhir yang ditulis Mom. Kali ini terdapat ada lima kata. “Tuliskan Kesusahan-Kesusahanmu Di Bukumu.”
Akupun kemudian membuang pesan itu, lalu menggantinya dengan buku harianku. Sambil duduk dibawah sinar rembulan dan lengkungan langit seolah-olah memberi rasa aman, aku menulis didalam buku harianku untuk beberapa patah kata tentang kesusahan-kesusahanku. Akhirnya bintang jatuh pun terlihat oleh mataku yang telah lelah. Aku memohon agar hari esok aku lebih baik dari hari ini.
Di pagi hari yang dingin, aku bergegas untuk bangun dan kemudian mandi serta mempersiapkan untuk berangkat ke sekolah karena ada pendalaman materi rutin untuk siswa-siswi kelas 3. Setelah sarapan dan lain-lain yang ada di rumah, akupun beranjak dari tempat bersarapan dan meminta izin Mom dan Dad untuk berangkat sekolah. Ku nyalakan motorku dan ku mengendarai menuju sekolah dengan segera.
Sesampainya di sekolah aku langsung memarkirkan motorku dan bergegas menuju ke kelas. Aku merasa kaget karena di depan kelasku terlihat seseorang yang menatapku penuh dengan tanda tanya.
“Mas Indra, kenal Aya?” Ungkapnya.
“Aya? Siapa dia? Anak kelas tiga tidak ada yang bernama Aya….” Jawabku ringan. Untung saja Arif datang bersama Kewin.
“
“Mmmmm, setahuku tidak ada. Emang siapa yang mencari Aya dikelas kita?”
“Dia….” Jawabku sambil menunjuk kearah seseorang yang belum aku kenal.
“Oh… kamu Caks…..!” sahut Kewin.
“Weks…….
“AYA”
“Oh….. Aya……” jawab Sahid membuka godaan usilnya ke Wicaksono.
“Emang kamu tahu, siapa Aya?” sahut Kewin dan Arif serentak.
“Wah jelas….. masa kalian sama teman sekelas tidak tahu. Aya itu si Dempul. Panggilan dia itu Aya.” Jelas Sahid.
“Yang bener…..” Sahut teman-teman sekelasku yang lain dengan serentak.
“Kalau si Aya itu datangnya agak telat….” Jelas Tika.
Beberapa saat kemudian, Wicaksono beranjak dari depan kelasku karena pendalaman materi untuk kelas 3 akan segera dimulai. Semua anak-anak kelas 3 IPA maupun IPS diwajibkan mengikutinya karena untuk melatih dan mengasah kemampuan dalam menghadapi Ujian Akhir Nasional yang memiliki standar kelulusan 4.01 serta kelulusan ini ditentukan hanya dengan tiga mata pelajaran saja. Jika salah satunya tidak lulus. Maka, harus mengulang dengan ujian perbaikan.
“Pul (sapaan sehari-hari Ayu-Dempul,red), tadi kamu dicari anak kelas 2B. kamu tadi ditunggu didepan kopsis.” Terang Tika dan Haniv.
“……….” Ayu hanya terdiam malu.
“Indra, emang tadi siapa yang mencariku?” Tanya Ayu kepadaku saat jam istirahat pertama.
“Oh… Wicaksono anak kelas 2B. Anaknya kuning langsat dan lumayan cakep…” jawabku kepada Ayu.
“Makan Soto dikantin yuk…. Ajak sekalian si Frans.” Ajak Ayu.
“Gimana Frans mau ikut ke kantin gak?” Ajakku.
“Kalau kamu ingin ke kantin, silakan aku ketempat Riyan saja.” Jawabnya.
“Baiklah kalau begitu.”
Sesampainya dikantin aku bertemu dengan Eci, dia seorang model handal lulusan salah satu studio model yang terletak di Jl HOS Cokroaminoto.
“Indra, kemarin kamu ikutan casting film layar lebar di Jl Prawirotaman?” Tanya Eci disela-sela ia makan soto dikantin.
“Wah sayang, aku tidak bisa mengikuti. Aku ada pendampingan pemotretan di studio temanku.” Jawabku singkat.
“Pemotretan untuk apa?” tanyanya balik.
“Pemotretan dancer dan fashion model. Aku jadi pengarah gayanya.”
Kami pun ngobrol sambil makan Soto di kantin dengan asyik dan terbawa suasana sampai-sampai telat masuk kelas.
Aku kira guru pengampu sudah berada dikelas, ternyata Ibu Shoimah tidak dapat memberikan materi untuk hari ini. Akhirnya kami pun mengajukan materi baru untuk mata pelajaran berikutnya.
“Frans, aku mulai curiga dengan anak kelas 1 yang selalu memanggilku itu.” Kataku kepada Frans.
“Anak kelas 1 yang mana? Si Bima atau si Uki?”
“Untuk nama mereka aku tidak tahu, yang jelas dia itu adiknya Ria anak IPA 2.” Terangku.
“Oh…., dia. Kenapa? Kamu suka ya…… tapi kayaknya mereka nge-fans berat denganmu.”
“Ye……, aku tidak naksir dia. Tapi aku hanya bingung aja kenapa juga mereka itu mencari info tentang diriku lewat kamu.” Lanjutku.
“Mungkin aja mereka bukan nge-fans tapi malah suka?! Kamu itu terkenal pula di sekolah sebagai jawara acting.” Ujar Frans memujiku.
“Ah…. Biasa aja.” Sahutku tersipu.
-Tet……………-
Bel pergantian pelajaran terdengar. Guru pengampu bahasa Inggris telah berada di depan kelasku.
“Good Afternoon, student!” sapa Ibu Dwi kepada siswa-siswinya.Tiba-tiba ibu Dwi mendatangiku untuk menanyakan sesuatu.
“Indra, masih aktif di dunia modeling? Dan bisa merancang busana?”
“Mmmm, masih Bu. Saya bisa merancangnya.
“Ooooo, ya saya ingin melihat hasil rancanganmu. Kapan saya bisa datang kerumah Indra?”
“Nanti sore bisa kok, Bu.” Jawabku.
“Ya! Anak-anak keluarkan bukunya dan buka halaman 15……..”
Menit lepas menit aku lalui dengan sabar walau sedikit bosan dengan pelajaran ini. Tetapi semuanya aku jalani dengan sedikit bercanda dengan Arif, Kewin, dan Frans disela-sela Ibu Dwi mengajar. Karena kelasku itu terkenal dengan orang-orang yang bikin onar saat pelajaran, Bu Dwi memberikan tugas untuk mengerjakan LKS yang telah dibagikan. Namanya juga IPS 2, tetap sulit untuk di ajak tenang. Beberapa saat kemudian, tugas dari Ibu Dwi pun dapat dikerjakan dirumah.
Matahari terbenam perlahan seolah-olah tidak mengalami banyak masalah pada dirinya. Ku nanti kedatangan Bu Dwi dengan lamunan tentang apa yang terjadi hari ini. “Setiap orang pasti ingin menikah, mengapa diriku malah seperti ini? Dan tidak sedikit mengatakan bahwa aku ini tidak normal. Aku selalu bertanya dalam hati, apa yang disebut dengan normal? Mengapa ada yang disebut dengan normal dan ada pula yang disebut dengan tidak normal. Bagiku ini semua adalah normal namun untuk masalah kisahku ini memang tidak wajar dan bukan berarti tidak normal.”
-Kring….. Kring….-
Telepon rumah berdering, dan tiba-tiba terdengar samar-samar suara kakak mengganggu lamunanku.
“INDRAAAAA! Ada telepon dari Bu Dwi.” Terang Kakak lelakiku.
“Halo, selamat sore….. Mas Indra, maaf ibu berhalangan hadir karena ibu masih sibuk. Mungkin lain kali kalau ada waktu saja. Nanti ibu kabari lagi.” Terang Bu Dwi saat berbicara ditelepon.
“Baiklah, kalau gitu.” Jawabku.
Senja berganti malam, perjalanan hidukupun terus berlanjut. Masalah-masalah dan pengalaman baru selalu muncul dengan sendirinya. Malam yang semrawut ini, menemaniku dalam perjalananku keliling kota. Tetapi akhirnya aku behenti disebuah tempat yang merupakan tanah lapang yang luas didepan sebuah kraton di kotaku yang berdiri setelah perjanjian Giyanti. Di tempat ini aku merenungkan semua yang akan kulakukan selama ini ataupun masa depanku. Hawa dingin yang menembus tulang rusukku menghiasi renunganku yang ditemani hiruk pikuk kota pelajar dan gemerlap lampu kota. Ketika sedang merenung dan melamun, tiba-tiba datang seorang bapak-bapak mengajakku untuk berkenalan dan entah apa yang dia pikirkan tentang diriku.
“Hai, Sendirian….?” Sapa bapak yang berumur seumuran dengan Dad.
“Iya, anda siapa ya?” Jawabku dengan berbalik tanya kepada orang tersebut.
“Nama itu tidak penting, yang penting sekarang anda mau atau tidak untuk berkencan dengan saya. Dan jika saya tawar harga pulsa bagaimana?” jawabnya.
“Hah gila. Emangnya saya ini lacur? Maaf ya, saya ini memang gay tapi saya bukanlah pelacur yang dapat anda pakai lalu anda buang begitu saja.” Terangku dengan tegas menjawab pertanyaan dari pria hidung belang yang mencari kucing liar malam yang dapat dibawa untuk kencan dengan harga murah.
Beberapa menit kemudian saya pun meninggalkan tempat itu segera dan berkeyakinan bahwa tidak semua gay itu dapat diperlakukan seperti sampah. Dan tidak semua gay itu pelacur. Namun ditengah perjalanan telepon genggamku bergetar, setelah aku lihat ternyata ada pesan singkat dari seseorang teman chatting. Dia bernama Oji, pelajar SMP kelas 2 yang selalu manja padaku. Di pesan pendeknya dia mengatakan bahwa dia ingin sekali bertemu denganku saat ini juga. Akan tetapi sebelum Oji sms, aku telah di sms oleh salah satu agency model untuk datang segera. Karena ada fitting baju untuk pemotretan.
Untuk itu aku memutuskan agar dapat mengambil keputusan yang pasti dari hal ini. Yang jelas keputusan yang aku ambil saat ini adalah datang ke agency model kemudian berangkat menuju rumah Oji. Aku tahu bahwa rumah Oji itu di sebelah timur laut
-tret….tret…trettttt….-
Telepon genggamku bergetar yang ternyata sms dari Oji. Ia mengatakan padaku bahwa dia tidak jadi bertemu pada malam ini karena ada urusan keluarga yang sangat mendesak.
Malam yang dingin sudah mulai larut, renungan-renungan demi melangkah ke depan selalu aku lakukan ketika akan beranjak tidur. “Tuhan, dalam dunia yang menyedihkan ini, penderitaan selalu datang tanpa pandang bulu. Entah dalam keadaan suka maupun duka, dan kerap kali di sertai siksaan yang tak terperikan. Ku hadapi dengan sempurna, itu hal yang mustahil. Kecuali aku harus menunggu waktu. Karena kesempurnaan itu hanya milik-Mu, manusia hanya dapat berusaha. Kini aku yakin bahwa diriku tak mungkin dapat membaik. Tapi ini tidak benar dan keyakinanku pasti salah. Namun diriku sangat yakin bahwa aku kelak akan bahagia. Tuhan…., dengan menyadari ini, sungguh-sungguh kupercayai, membuatku takkan terlalu sengsara. Dan kini aku memiliki banyak pengalaman untuk mengatakan semua ini.”