04 Januari 2009

Jangan Panggil Aku Gay (3)

By. Dian T Indrawan

06.00. Aku bangun pagi-pagi sekali dan bergegas untuk mandi dan segera menjemput Siska dan Sulis di suatu tempat yang sudah disepakati yaitu sekolah Siska. Ya, sekitar 15 kilometer dari kota pelajar ini. Perjalanan ketempat sekolah Siska kurang lebih 30 menit. Setiba di sekolah Siska, kami bersama Siska dan kawan-kawan menuju objek wisata salak pondoh dikota budaya ini. Kami berdua pun duduk dihamparan rumput hijau di kebun salak tersebut. Pohon salak dikebun itu berbuah dengan lebatnya. Kami senang memandang keindahan alam sekitar. Angin berhembus memainkan daun pohon salak. Tiba-tiba aku bertanya : “Mengapa kamu membuka kancing bajumu hingga lepas terbuka?” Ia hanya tertawa. Sementara itu aku memandangnya, ia bagaikan pangeran berkuda putih yang sedang kelelahan.

09.00. Ketika Sulis duduk sembari bersandar di sebuah menara pengamatan kebun, aku pun tidur diatas pangkuannya. Karena aku sudah minta izin kepada Siska untuk bicara empat mata dengan Sulis. Siska pun memberi izin kepadaku, ia pun tahu kalau antara aku dengan Sulis masih memiliki masalah yang belum dapat diselesaikan.

Ndra, aku minta maaf. Aku telah mengecewakanmu, mengkhianatimu, tapi kamu harus tahu…., bahwa hubungan kita itu salah. Tetapi kamu janganlah terus-terusan bersedih, suatu saat nanti pasti kamu ‘kan mendapatkan yang lebih baik dariku.” Ucapnya dengan penuh kebijaksanaan kepadaku.

Kau tak kan mengerti bagaimana kesepianku, menghadapi hidup tanpa cinta. Kau takkan pernah mengerti semua luka hatiku, karena cintamu untukku telah pudar dari hatimu. Setiap aku membayangkan wajahmu adalah siksa. Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan jiwa. Mengapa kau menjadi racun dalam darah dan hatiku? Apabila aku merindukanmu, ibarat tungku tanpa api.” Jawabku dengan perasaan yang sangat kecewa, cemburu, dan sinis terhadapnya.

Ndra, kumohon maafkan aku. Aku sangat berharap jika kamu dapat mengerti. Tolong beri aku pengertianmu untuk hubungan kita….

Pengertian! Pengertian yang bagaimana? Apa lagi yang kita punya? Apakah cinta kita memiliki harga? Apa maksud dari hubungan kita ini, Lis? Apakah hanya perasaanmu yang tertekan dari pihak keluargamu, terus kamu memutuskan hubungan kita ini dan beralih ke hati seorang wanita? Dia itu sahabatku. Mengapa harus Siska?” aku menyela perkataannya dengan penuh emosi.

Tak ada pilihan lain, selama ini aku berusaha mencintainya. Dia tak kan pernah tahu apa yang aku lakukan terhadapnya.” Katanya dengan jujur.

Apa! Tak ada pilihan lain? Oh…! Apa maksud dari dia tak kan pernah tahu apa yang kamu lakukan terhadap dirinya? Aku harap jangan kau permainkan dia. Cukup aku saja yang menjadi korban permainan cintamu.

Maksudku bukan untuk mempermainkan….

CUKUP! Aku tak ingin mendengarkan penjelasanmu lagi. Lis, aku tahu kamu sudah tak mencintaiku lagi. Tapi aku tak rela jika kamu menjalin hubungan dengan Siska. Aku dapat ikhlas jika kamu bisa menjalin hubungan baru dengan pria lain.”

13.00. Tiba-tiba Siska dan teman-temannya datang menghampiri kami. Kami pun berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa. Siska dan teman-temannya pun mengajakku bersenda gurau. Tapi mataku sesekali memandang wajah Sulis. Akhirnya kami pun memutuskan untuk pulang. Siska sudah mulai curiga ketika aku mengambil kendaraanku yang berada di tempat parkir. Saat datang memang aku dibonceng Sulis. Tetapi saat pulang aku memutuskan untuk mengendarai motorku sendiri. Aku hanya tidak ingin merepotkan Sulis. Karena ia tak sejalur pulang. Ia di Godean sedangkan aku di Mantrijeron. Biarlah Siska diantar pulang Sulis. Karena sudah sepantasnya seorang pria mengantarkan pulang seorang wanita.

22 Desember, 06.30. Aku mendengar kabar, bahwa Sulis dan Siska telah putus karena Sulis telah mendapatkan pujaan hatinya. Ya! Dia Surya. Dia adalah teman sekolah Sulis yang berprofesi sebagai pelukis. Tetapi aku tidak akan membicarakan tentang hubungan mereka. Hari ini adalah ulang tahun Sulis. Pagi-pagi aku sengaja tidak berangkat ke sekolah karena aku hanya ingin memberikan sebuah kado idaman. Aku merelakan untuk pergi ke Solo.

Hanya sebuah kaca mata biru bergradasi warna merah jambu. Yang dia inginkan ketika kami berdua membolos ke Solo saat masih duduk di bangku SMP. Tidak hanya itu saja, aku juga membelikan pewarna rambut yang sesuai dengan warna kulitnya dan rokok kesukaannya sebanyak satu slof. Memang sih itu hadiah yang paling aneh seumur hidupku yang aku berikan ke orang lain. Tapi aku rela berkorban demi kekasihku, uang bukanlah segalanya bagiku. Aku hanya tak mau dia menderita karenaku.

13.00. Ku kendarai motor sportku menuju kota Yogya dengan penuh kebahagian. Aku tak merasa kelelahan walau panas menyengat kepalaku. Oh…! Tunggu aku kekasihku. Aku membawakan sebuah bingkisan untukmu walau tak seberapa. Aku harap kamu dapat menerimanya walaupun aku bukan kekasihmu lagi. Namun aku berjanji aku tak’kan pernah jauh darimu.

18.30. Ingatkah kau pada malam-malam saat kita bersama, mengagungkan cahaya jiwamu. Dan dewa-dewa cinta mengelilingi kita dengan nyanyian cinta dari perbuatan jiwa? Ingatkah kau ketika kita duduk dibangku ini? Ingatkah kau tentang jalan-jalan, dan bukit-bukit yang kita lewati bersama, kau kupeluk, jari-jemarimu melilit dalam jariku seperti lembaran rambut-rambutmu? Ingatkah engkau ketika aku datang menghampirimu, dan memberi sebuah tawaran perpisahan kepadamu? Kau menciumku dan memelukku. Dan aku tahu ini adalah suatu penyatuan bibir yang melahirkan rahasia yang tak dapat dipahami oleh lidah.

Terima kasih, hadiahnya. Aku senang kau datang pada malam ini.” Ungkapnya.

Selamat ulang tahun. Semoga kamu selalu bahagia. Apakah malam ini hanya miliki kita berdua, Lis?

Ya. Ini adalah malam untuk kita berdua. Sekaligus malam terakhir untuk kita. Lebih baik kita akhiri semuanya malam ini.” Jelasnya bijak.

Baiklah, kalau begitu. Aku kan berusaha membahagiakan hatimu untuk terakhir kali. Lis, kalau dengan ini kamu dapat bahagia, aku juga ikut bahagia.” Sahutku dengan penuh kesabaran.

20.00. Lis, aku ingin minta izin, bahwa aku pada tanggal 25 Desember aku mengikuti lomba piano tingkat nasional, aku ingin mempersembahkan kemenanganku hanya untuk keluarga dan dirimu.” Jelasku.

Semua yang kamu anggap benar, dan dapat memebahagiakanmu lakukan saja. Kamu tak perlu memohon ijin kepadaku lagi karena kita sudah berpisah.” Jelasnya dengan sinis.

Hatiku seperti disayat pisau berkali-kali ketika ia berbicara seperti itu terhadapku. Beberapa menit kemudian aku pun beranjak dari rumah Sulis. Ternyata ia membohongiku. Malam itu tidak hanya milik kami namun malam itu juga milik Surya dan Sulis. Aku hanya memberi sedikit kata dalam sms-ku kepadanya. “Kamu terlihat bahagia dengannya. Aku tak’kan pernah jauh darimu. Aku senang jika kau dapat bahagia dengannya.” Ku injak gas mobilku, dan menjauh dari tempat mereka kencan. Aku sempat melihatnya. Dia mencariku ke segala arah dan dia hanya tersenyum setelah disapa Surya, entah apa yang mereka bicarakan.

Racun t’lah menjalar dikelengangan malam.

Lampu taman mulai dipingsankan oleh hujan.

Berbaringan wajahmu di tembok rumah,

Kesepian bak sepatu baja yang menekur dikhianati bulan.

Engkaulah yang telah terlelap tidur dihatiku

Oleh sepi diriku yang t’lah dirampas jalan.

Semua diselimuti kelam

Dan dinginnya maut atau ribamu di ujung jalan.

Air yang menggenangi wajahmu adalah racun bagiku.

25 Desember 07.00. Aku bersiap untuk mengikuti lomba piano. Dengan didampingi temanku. Dia adalah Atik. Dia memang cantik, baik, setiap pria pasti beruntung jika mendapatkannya. Jujur, aku juga terpesona dengannya tapi… aku tak dapat mencintainya. Make-upku, yang mempersiapkan hanyalah Atik. Aku melangkah dengan penuh kewibawaan. Aku membawakan sebuah lagu romantis karya seorang komposer dunia didepan tiga penilai ternama. Namun mengapa diriku merasakan demam panggung? Apa karena disaksikan oleh seseorang yang aku sayangi?

Ketika memainkan lagu tersebut, oh… jantungku berdebar, benih-benih yang disebar ke tanah surga sepertinya mulai tumbuh. Aku mulai demam panggung seperti ingin pingsan. Tetapi diriku tetap harus tegar karena hari ini adalah ulang tahun Mom. Aku yakin selain Atik pasti Mom dan Dad datang untuk menyaksikan aku berkompetisi. lagu yang aku bawakan memang sedikit susah untuk orang seusiaku, namun berkat sahabatku Isabella, aku dapat memainkan dengan penuh penghayatan. Sungguh tak menyangka ternyata penonton memberi tepukan tangan yang luar biasa.

Aku duduk di sebuah bangku kecil yang terletak di pojok ruang make-up, aku masih tak yakin atas permainanku pada hari ini. Dan tak merasa bahwa yang memainkan lagu itu adalah diriku. Aku hanya merasa seperti kerasukan roh pencipta lagu tersebut.

Indra…., sukses ya, permainanmu sangat bagus dan penuh penghayatan.” Kejut Kak Ve sambil memberikan selamat bagiku.

Terima kasih…” jawabku kaget. Ya memang, kak Ve adalah seorang pelatih dan pemain piano yang baik. Ia adalah salah satu mentor piano disebuah yayasan musik tempat aku bernaung.

Apa rencanamu, ndra? Jika kamu menang nanti? Apa kamu akan ambil hadiah belajar tiga bulan di Jerman?” Lanjut kak Ve terhadapku.

Oh… Aku tak punya harapan. Aku hanya ingin hati kedua orang tuaku dan orang-orang yang aku sayangi dapat bahagia.” Ucapku.

Sayup-sayup aku mendengar acara puncak sudah tiba. Berarti saatnya pengumuman pemenang. (The ladies and gentlemens, the runner up reached for by Indra from Yogyakarta, red.) Saat itu aku sungguh tak menyangka bahwa aku dapat meraih gelar juara kedua. Para penonton bertepuk tangan, karangan bunga pun aku terima dari kedutaan besar Uni Eropa serta aku mendapat voucher makan dan menginap selama dua hari di sebuah hotel berbintang lima di kota pahlawan. Tak ada perayaan, tak ada pula kebahagiaan yang aku rasa. Walau dihatiku sudah ada seseorang yang lain tapi perasaanku tak dapat dipaksa jika aku masih mencintai “dia”.

Hampir aku mengetuk kamar Atik namun aku urungkan niatku. Aku ingin sekali melepas dia. Dengan demikian aku dapat membahagiakannya. Selama hidupku aku tak pernah bahagia, aku menyadari bahwa aku seorang lelaki yang tak pernah bahagia ketika mencintai seorang gadis. Aku ingin menjadikannya teman hidup, mencurahkan semuanya di darah hatinya, menempatkan di tangan yang terbuka. Dan aku berusaha membeli perasaannya dengan perasaanku.

Namun tiba-tiba aku mengetahui bahwa ia telah menjadi milik orang lain. Ya! Yang tak lain itu temanku sendiri. Awalnya aku ingin merebut kebahagiaannya, namun aku tahu bahwa semua itu bukanlah jalan keluarnya. Aku segera pergi kerumah Siska dan menceritakan semua apa yang terjadi.

Sudahlah, masih banyak gadis-gadis di luar sana yang mengharapkan kehadiranmu. Aku yakin jika esok kamu mendapatkan yang lebih baik darinya, maka kelak kamu akan menemukan kebahagian di dalam bagian-bagian tersembunyi dan bergembira dalam rahasia cintamu.” Ungkap Siska.

Tetapi aku tidak dapat tinggal diam begitu saja….

Indra, percayalah walau kamu lebih dahulu kenal Atik, namun perasaan itu tak dapat dipaksakan.

Malam ini aku memang sedang sial. Aku mencoba untuk menceritakan semua kepada kedua orang tuaku, apa yang terjadi terhadap masalahku dengan seorang gadis yang aku cintai namun mengkhianati dibelakangku. Dan tentang hubunganku dengan gadis lain, yang aku bertemu berkat jasa Siska. Namun aku tidak menemukan jalan keluar namun hanyalah stres yang aku dapatkan.

Kamu suka dengan Atik?” Tanya Mom kepadaku.

Mmm, ya, aku menyayanginya.” Jawabku penuh keraguan.

Apa…? Kamu menyukai dia? Kita itu tidak sederajat dengan dia. Kamu normal tidak sih…?” Sahutnya dengan banyak pertanyaan.

Normal.

Kamu tahu, apa normal itu?” lanjutnya.

Normal itu sesuatu yang menggairahkan tapi disatu jalan….

Berarti kamu bergairah dengan Atik? Kamu sadar tidak…., kamu itu pria! bukan wanita….” Selanya tanpa memikir panjang suatu omongan yang dilontarkannya.

Setelah kejadian dengan kedua orangtuaku, dan ketika aku sekarang sudah hampir duduk dibangku kelas dua SMA, aku masih bingung tentang jati diriku yang sebenarnya. Ya Tuhan, tolonglah hamba-Mu ini mencari jati diri yang sesungguhnya. Mengapa kau ciptakanku berbeda dengan pria yang lain? Aku penuh dengan kebimbangan.

31 Desember. Terkirim sebuah pesan pendek dari seseorang. Ia mengucapkan terima kasihnya untuk semangat yang tulus aku berikan di sela-sela rutinitas sekolahnya yang terkadang membuatnya tidak berdaya dan merasa bosan. “Terimakasih juga sayang. Aku tahu mungkin kau lelah tapi aku ada disini menemanimu, meyemangatimu dari belakang dan selalu mendoakan yang terbaik untuk kita. Satukan semangat kita sayang, dan sekarang pun aku juga berjuang untuk tetap menjadi yang terbaik untukmu. Apapun yang akan terjadi di tengah perjalanan cinta kita, yakinkan dan teguhkan hati bahwa semuanya ini akan membuat kita semakin mantap melangkah. Oh ya, jangan lupa juga kalau aku selalu merindukanmu di sini.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
SPOT ABU-ABU - Free Blogger Templates, Free Wordpress Themes - by Templates para novo blogger HD TV Watch Shows Online. Unblock through myspace proxy unblock, Songs by Christian Guitar Chords